--- Atas Post ---
Tampilkan postingan dengan label cerita Ngentot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita Ngentot. Tampilkan semua postingan

cerita sex | cerita panas bersama pacarku

----- ADS TOP POST DESKTOP ---
cerita sex | cerita panas bersama pacarku
[17+] Selamat Menikmati Cerita Dewasa, cerita panas, cerita hot, TERBARU!!!

Pacarku dan Adik - adiknya

Cerita ini berawal ketika aku pacaran dengan Dian. Dian adalah seorang gadis mungil dengan tubuh yang seksi dan dibalut oleh kulit yang putih mulus. Walaupun payudaranya tidak terlalu besar, ya... kira-kira berukuran 34 lah. Selama pacaran, kami belum pernah berhubungan badan. Hanya saja kalau nafsu sudah tidak bisa ditahan, biasanya kami melakukan oral seks. Dian memiliki dua orang adik perempuan yang cantik. Adiknya yang pertama, namanya Elsa, juga mempunyai kulit yang putih mulus. Namun payudaranya jauh lebih besar daripada kakaknya. Menurut kakaknya, ukurannya 36B. Inilah yang selalu menjadi perhatianku kalau aku sedang ngapel ke rumah Dian. Payudaranya yang berayun-ayun kalau sedang berjalan, membuat penisku berdiri tegak karena membayangkan betapa enaknya memegang payudaranya. Sedangkan adiknya yang kedua masih kelas 2 SMP. Namanya Agnes. Tidak seperti kedua kakaknya, kulitnya berwarna sawo matang. Tubuhnya semampai seperti seorang model cat walk. Payudaranya baru tumbuh. Sehingga kalau memakai baju yang ketat, hanya terlihat tonjolan kecil dengan puting yang mencuat. Walaupun begitu, gerak-geriknya sangat sensual. Pada suatu hari, saat di rumah Dian sedang tidak ada orang, aku datang ke rumahnya. Wah, pikiranku langsung terbang ke mana-mana. Apalagi Dian mengenakan daster dengan potongan dada yang rendah berwarna hijau muda sehingga terlihat kontras dengan kulitnya. Kebetulan saat itu aku membawa VCD yang baru saja kubeli. Maksudku ingin kutonton berdua dengan Dian. Baru saja hendak kupencet tombol play, tiba-tiba Dian menyodorkan sebuah VCD porno. "Hei, dapat darimana sayang?" tanyaku sedikit terkejut. "Dari teman. Tadi dia titip ke Dian karena takut ketahuan ibunya", katanya sambil duduk di pangkuanku. "Nonton ini aja ya sayang. Dian kan belum pernah nonton yang kayak gini, ya?" pintanya sedikit memaksa. "Oke, terserah kamu", jawabku sambil menyalakan TV. Beberapa menit kemudian, kami terpaku pada adegan panas demi adegan panas yang ditampilkan. Tanpa terasa penisku mengeras. Menusuk-nusuk pantat Dian yang duduk di pangkuanku. Dian pun memandang ke arahku sambil tersenyum. Rupanya dia juga merasakan. "Ehm, kamu udah terangsang ya sayang?" tanyanya sambil mendesah dan kemudian mengulum telingaku. Aku hanya bisa tersenyum kegelian. Lalu tanpa basa-basi kuraih bibirnya yang merah dan langsung kucium, kujilat dengan penuh nafsu. Jari-jemari Dian yang mungil mengelus-elus penisku yang semakin mengeras. Lalu beberapa saat kemudian, tanpa kami sadari ternyata kami sudah telanjang bulat. Segera saja Dian kugendong menuju kamarnya. Di kamarnya yang nyaman kami mulai melakukan foreplay. Kuremas payudaranya yang kiri. Sedangkan yang kanan kukulum putingnya yang mengeras. Kurasakan payudaranya semakin mengeras dan kenyal. Kuganti posisi. Sekarang lidahku liar menjilati vaginanya yang basah. Kuraih klitorisnya, dan kugigit dengan lembut. "Aahh... ahh... sa.. sayang, Dian udah nggak kuat... emh... ahh... Dian udah mau keluar... aackh... ahh... ahh!" Kurasakan ada cairan hangat yang membasahi mukaku. Setelah itu, kudekatkan penisku ke arah mulutnya. Tangan Dian meremas batangku sambil mengocoknya dengan perlahan, sedangkan lidahnya memainkan buah pelirku sambil sesekali mengulumnya. Setelah puas bermain dengan buah pelirku, Dian mulai memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Mulutnya yang mungil tidak muat saat penisku masuk seluruhnya. Tapi kuakui sedotannya memang nikmat sekali. Sambil terus mengulum dan mengocok batang penisku, Dian memainkan puting susuku. Sehingga membuatku hampir ejakulasi di mulutnya. Untung masih dapat kutahan. Aku tidak mau keluar dulu sebelum merasakan penisku masuk ke dalam vaginanya yang masih perawan itu. Saat sedang hot-hotnya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aku dan Dian terkejut bukan main. Ternyata yang datang adalah kedua adiknya. Keduanya spontan berteriak kaget. "Kak Dian, apa-apan sih? Gimana kalau ketahuan Mama?" teriak Agnes. Sedangkan Elsa hanya menunduk malu. Aku dan Dian saling berpandangan. Kemudian aku bergerak mendekati Agnes. Melihatku yang telanjang bulat dengan penis yang berdiri tegak, membuat Agnes berteriak tertahan sambil menutup matanya. "Iih... Kakak!" jeritnya. "Itunya berdiri!" katanya lagi sambil menunjuk penisku. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lakunya. Setelah dekat, kurangkul dia sambil berkata, "Agnes, Kakak sama Kak Dian kan nggak ngapa-ngapain. Kita kan lagi pacaran. Yang namanya orang pacaran ya... kayak begini ini. Nanti kalo Agnes dapet pacar, pasti ngelakuin yang kayak begini juga. Agnes udah bisa apa belum?" tanyaku sambil mengelus pipinya yang halus. Agnes menggeleng perlahan. "Mau nggak Kakak ajarin?" tanyaku lagi. Kali ini sambil meremas pantatnya yang padat. "Mmh, Agnes malu ah Kak", desahnya. "Kenapa musti malu? Agnes suka nggak sama Kakak?" kataku sambil menciumi belakang lehernya yang ditumbuhi rambut halus. "Ahh, i.. iya. Agnes udah lama suka ama Kakak. Tapinya nggak enak sama Kak Dian", jawabnya sambil memejamkan mata. Tampaknya Agnes menikmati ciumanku di lehernya. Setelah puas menciumi leher Agnes, aku beralih ke Elsa. "Kalo Elsa gimana? Suka nggak ama Kakak?" Elsa mengangguk sambil kepalanya masih tertunduk. "Ya udah. Kalo gitu tunggu apa lagi", kataku sambil menggandeng keduanya ke arah tempat tidur. Elsa duduk di pinggiran tempat tidur sambil kusuruh untuk mengulum penisku. Pertamanya sih dia nggak mau, tapi setelah kurayu sambil kuraba payudaranya yang besar itu, Elsa mau juga. Bahkan setelah beberapa kali memasukkan penisku ke dalam mulutnya, Elsa tampaknya sangat menikmati tugasnya itu. Sementara Elsa sedang memainkan penisku, aku mulai merayu Agnes. "Agnes, bajunya Kakak buka ya?" pintaku sedikit memaksa sambil mulai membuka kancing baju sekolahnya. Lalu kulanjutkan dengan membuka roknya. Ketika roknya jatuh ke lantai, terlihat CD-nya sudah mulai basah. Segera saja kulumat bibirnya dengan bibirku. Lidahku bergerak-gerak menjilati lidahnya. Agnes pun kemudian melakukan hal yang sama. Sambil tetap menciumi bibirnya, tanganku bermaksud membuka BH-nya. Tapi segera ditepiskannya tanganku. "Jangan Kak, malu. Dada Agnes kan kecil", katanya sambil menutupi dadanya dengan tangannya. Dengan tersenyum kuajak dia menuju ke kaca yang ada di meja rias. Kusuruh dia berkaca. Sementara aku ada di belakangnya. "Dibuka dulu ya!" kataku membuka kancing BH-nya sambil menciumi lehernya. Setelah BH-nya kujatuhkan ke lantai, payudaranya kuremas perlahan sambil memainkan putingnya yang berwarna coklat muda dan sudah mengeras itu. "Nah, kamu lihat sendiri kan. Biar dada kamu kecil, tapi kan bentuknya bagus. Lagian kamu kan emang masih kecil, wajar aja kalo dada kamu kecil. Nanti kalo udah gede, dada kamu pasti ikutan gede juga", kataku sambil mengusapkan penisku ke belahan pantatnya. Agnes mendesah keenakan. Kepalanya bersandar ke dadaku. Tangannya terkulai lemas. Hanya nafasnya saja yang kudengar makin memburu. Segera kugendong dia menuju ke tempat tidur. Kutidurkan dan kupelorotkan CD-nya. Bulu kemaluannya masih sangat jarang. Menyerupai bulu halus yang tumbuh di tangannya. Kulebarkan kakinya agar mudah menuju ke vaginanya. Kucium dengan lembut sambil sesekali kujilat klitorisnya. Sementara Elsa kusuruh untuk meremas-remas payudaranya adiknya itu. "Aahh... ach... ge... geli Kak. Tapi nikmat sekali, aahh terus Kak. Jangan berhenti. Mmh... aahh... ahh." Setelah puas dengan vagina Agnes. Aku menarik Elsa menjauh sedikit dari tempat tidur. Dian kusuruh meneruskan. Lalu dengan gaya 69, Dian menyuruh Agnes menjilati vaginanya. Sementara itu, aku mulai mencumbu Elsa. Kubuka kaos ketatnya dengan terburu-buru. Lalu segera kubuka BH-nya. Sehingga payudaranya yang besar bergoyang-goyang di depan mukaku. "Wow, tete kamu bagus banget. Apalagi putingnya, merah banget kayak permen", godaku sambil meremas-remas payudaranya dan mengulum putingnya yang besar. Sedangkan Elsa hanya tersenyum malu. "Ahh, ah Kakak, bisa aja", katanya sambil tangan kirinya mengelus kepalaku dan tangan kanannya berusaha manjangkau penisku. Melihat dia kesulitan, segera kudekatkan penisku dan kutekan-tekankan ke vaginanya. Sambil mendesah keenakan, tangannya mengocok penisku. Karena kurasakan air maniku hampir saja muncrat, segera kuhentikan kocokannya yang benar-benar nikmat itu. Harus kuakui, kocokannya lebih nikmat daripada Dian. Setelah menenangkan diri agar air maniku tidak keluar dulu, aku mulai melorotkan CD-nya yang sudah basah kuyup. Begitu terbuka, terlihat bulu kemaluannya lebat sekali, walaupun tidak selebat Dian, sehingga membuatku sedikit kesulitan melihat vaginanya. Setelah kusibakkan, baru terlihat vaginanya yang berair. Kusuruh Elsa mengangkang lebih lebar lagi agar memudahkanku menjilat vaginanya. Kujilat dan kuciumi vaginanya. Kepalaku dijepit oleh kedua pahanya yang putih mulus dan padat. Nyaman sekali pikirku. "aahh, Kak... Elsa mau pipiss..." erangnya sambil meremas pundakku. "Keluarin aja. Jangan ditahan", kataku. Baru selesai ngomong, dari vaginanya terpancar air yang lumayan banyak. Bahkan penisku sempat terguyur oleh pipisnya. Wah nikmat sekali jeritku dalam hati. Hangat. Setelah selesai, kuajak Elsa kembali ke tempat tidur. Kulihat Dian dan Agnes sedang asyik berciuman sambil tangan keduanya memainkan vaginanya masing-masing. Sementara di sprei terlihat ada banyak cairan. Rupanya keduanya sudah sempat ejakulasi. Karena Dian adalah pacarku, maka ia yang dapat kesempatan pertama untuk merasakan penisku. Kusuruh Dian nungging. "Sayang, Dian udah lama nunggu saat-saat ini", katanya sambil mengambil posisi nungging. Setelah sebelumnya sempat mencium bibirku dan kemudian mengecup penisku dengan mesra. Tanpa berlama-lama lagi, kuarahkan penisku ke vaginanya yang sedikit membuka. Lalu mulai kumasukkan sedikit demi sedikit. Vaginanya masih sangat sempit. Tapi tetap kupaksakan. Dengan hentakan, kutekan penisku agar lebih masuk ke dalam. "Aachk! Sayang, sa... sakit! aahhck... ahhck..." Dian mengerang tetapi aku tak peduli. Penisku terus kuhunjamkan. Sehingga akhirnya penisku seluruhnya masuk ke dalam vaginanya. Kuistirahatkan penisku sebentar. Kurasakan vaginanya berdenyut-denyut. Membuatku ingin beraksi lagi. Kumulai lagi kocokan penisku di dalam vaginanya yang basah sehingga memudahkan penisku untuk bergerak. Kutarik penisku dengan perlahan-lahan membuatnya menggeliat dalam kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Makin kupercepat kocokanku. Tiba-tiba tubuh Dian menggeliat dengan liar dan mengerang dengan keras. Kemudian tubuhnya kembali melemas dengan nafas yang memburu. Kurasakan penisku bagai disemprot oleh air hangat. Rupanya Dian sudah ejakulasi. Kucabut penisku dari vaginanya. Terlihat ada cairan yang menetes dari vaginanya. "Kok ada darahnya sayang?" tanya Dian terkejut ketika melihat ke vaginanya. "Kan baru pertama kali", balas Dian mesra. "Udah, nggak apa-apa. Yang penting nikmat kan sayang?" kataku menenangkannya sambil mengeluskan penisku ke mulut Elsa. Dian cuma tersenyum dan setelah kucium bibirnya, aku pindah ke Elsa. Sambil mengambil posisi mengangkang di atasnya, kudekatkan penisku ke mulutnya. Kusuruh mengulum sebentar. Lalu kuletakkan penisku di antara belahan payudaranya. Kemudian kudekatkan kedua payudaranya sehingga menjepit penisku. Begitu penisku terjepit oleh payudaranya, kurasakan kehangatan. "Ooh... Elsa, hangat sekali. Seperti vagina", kataku sambil memaju-mundurkan pinggulku. Elsa tertawa kegelian. Tapi sebentar kemudian yang terdengar dari mulutnya hanyalah desahan kenikmatan. Setelah beberapa saat mengocok penisku dengan payudaranya, kutarik penisku dan kuarahkan ke mulut bawahnya. "Dimasukin sekarang ya?" kataku sambil mengusapkan penisku ke bibir kewanitaannya. Kusuruh Elsa lebih mengangkang. Kupegang penisku dan kemudian kumasukkan ke dalam kewanitaannya. Dibanding Dian, vagina Elsa lebih mudah dimasuki karena lebih lebar. Kedua jarinya membuka kewanitaannya agar lebih gampang dimasuki. Sama seperti kakaknya, Elsa sempat mengerang kesakitan. Tapi tampaknya tidak begitu dipedulikannnya. Kenikmatan hubungan seks yang belum pernah dia rasakan mengalahkan perasaan apapun yang dia rasakan saat itu. Kupercepat kocokanku. "Aahh... aahh... aacchk... Kak terus Kak... ahh... ahh... mmh... aahh... Elsa udah mau ke... keluar." Mendengar itu, semakin dalam kutanamkan penisku dan semakin kupercepat kocokanku. "Aahh... Kak... Elsa keluar! mmh... aahh... ahh..." Segera kucabut penisku. Dan kemudian dari bibir kemaluannya mengalir cairan yang sangat banyak. "Elsa, nikmat khan?" tanyaku sambil menyuruh Agnes mendekat. "Enak sekali Kak. Elsa belum pernah ngerasain yang kayak gitu. Boleh kan Elsa ngerasain lagi?" tanyanya dengan mata yang sayu dan senyum yang tersungging di bibirnya. Aku mengangguk. Dengan gerakan lamban, Elsa pindah mendekati Dian. Yang kemudian disambut dengan ciuman mesra oleh Dian. "Nah, sekarang giliran kamu", kataku sambil merangkul pundak Agnes. Kemudian, untuk merangsangnya kembali, kurendahkan tubuhku dan kumainkan payudaranya. Bisa kudengar jantungnya berdegup dengan keras. "Agnes jangan tegang ya. Rileks aja", bujukku sambil membelai-belai vaginanya yang mulai basah. Agnes cuma mengangguk lemah. Kubaringkan tubuhku. Kubimbing Agnes agar duduk di atasku. Setelah itu kuminta mendekatkan vaginanya ke mulutku. Setelah dekat, segera kucium dan kujilati dengan penuh nafsu. Kusuruh tangannya mengocok penisku. Beberapa saat kemudian, "Kak... aahh... ada yang... mau... keluar dari memek Agnes... aahh... ahh", erangnya sambil menggeliat-geliat. "Jangan ditahan Agnes. Keluarin aja", kataku sambil meringis kesakitan. Soalnya tangannya meremas penisku keras sekali. Baru saja aku selesai ngomong, vaginanya mengalir cairan hangat. "Aahh... aachk... nikmat sekali Kak... nikmat..." jerit Agnes dengan tangan meremas-remas payudaranya sendiri. Setelah kujilati vaginanya, kusuruh dia jongkok di atas penisku. Begitu jongkok, kuangkat pinggulku sehingga kepala penisku menempel dengan bibir vaginanya. Kubuka vaginanya dengan jari-jariku, dan kusuruh dia turun sedikit-sedikit. Vaginanya sempit sekali. Maklum, masih anak-anak. Penisku mulai masuk sedikit-sedikit. Agnes mengerang menahan sakit. Kulihat darah mengalir sedikit dari vaginanya. Rupanya selaput daranya sudah berhasil kutembus. Setelah setengah dari penisku masuk, kutekan pinggulnya dengan keras sehingga akhirnya penisku masuk semua ke vaginanya. Hentakan yang cukup keras tadi membuat Agnes menjerit kesakitan. Untuk mengurangi rasa sakitnya, kuraba payudaranya dan kuremas-remas dengan lembut. Setelah Agnes merasa nikmat, baru kuteruskan mengocok vaginanya. Lama-kelamaan Agnes mulai menikmati kocokanku. Kunaik-turunkan tubuhnya sehingga penisku makin dalam menghunjam ke dalam vaginanya yang semakin basah. Kubimbing tubuhnya agar naik turun. "Aahh... aahh... aachk... Kak... Agnes... mau keluar... lagi", katanya sambil terengah-engah. Selesai berbicara, penisku kembali disiram dengan cairan hangat. Bahkan lebih hangat dari kedua kakaknya. Begitu selesai ejakulasi, Agnes terkulai lemas dan memelukku. Kuangkat wajahnya, kubelai rambutnya dan kulumat bibirnya dengan mesra. Setelah kududukkan Agnes di sebelahku, kupanggil kedua kakaknya agar mendekat. Kemudian aku berdiri dan mendekatkan penisku ke muka mereka bertiga. Kukocok penisku dengan tanganku. Aku sudah tidak tahan lagi. Mereka secara bergantian mengulum penisku. Membantuku mengeluarkan air mani yang sejak tadi kutahan. Makin lama semakin cepat. Dan akhirnya, crooottt... croott... creet... creet! Air maniku memancar banyak sekali. Membasahi wajah kakak beradik itu. Kukocok penisku lebih cepat lagi agar keluar lebih banyak. Setelah air maniku tidak keluar lagi, ketiganya tanpa disuruh menjilati air mani yang masih menetes. Lalu kemudian menjilati wajah mereka sendiri bergantian. Setelah selesai, kubaringkan diriku, dan ketiganya kemudian merangkulku. Agnes di kananku, Elsa di samping kiriku, sedangkan Dian tiduran di tubuhku sambil mencium bibirku. Kami berempat akhirnya tertidur kecapaian. Apalagi aku, sepanjang pengalamanku berhubungan seks, belum pernah aku merasakan yang senikmat ini. Dengan tiga orang gadis, adik kakak, masih perawan pula semuanya. That was the best day of my live.

cerita dewasa | cerita sex Emak Dan Anaknya

----- ADS TOP POST DESKTOP ---
cerita dewasa | cerita sex Emak Dan Anaknya
[17+] Selamat Menikmati Cerita Dewasa, cerita panas, cerita hot, TERBARU!!!

Emak Dan Anaknya


Pagi tadi, awal-awal lagi Sidek keluar pergi bertugas. Kali ini perginya agak lama, mungkin sebulan dua. Halimah berlagak sedih disaat pemergian suaminya, sedangkan dihatinya bersorak kegirangan. Setelah pemergian Sidek, Halimah terus ke bilik air, mandi membersihkan diri. Sisa air mani Sidek yang masih pekat di celah punggungnya dibersihkan. Begitu juga kesan air mani Sidek yang kering dan melekat di perutnya yang buncit itu.
Selesai mandi, Halimah terus ke biliknya. Rambutnya dikeringkan menggunakan tuala. Seluruh tubuhnya di lap hingga kering. Tangannya membuka almari pakaian, memilih pakaian apa yang hendak dipakai hari itu. Kain batik merah dipilihnya. Tanpa memakai seluar dalam, dia terus menyarungkan kain batik di tubuhnya. Lilitan di pinggang diikat kemas. Kemudian dia memilih baju apa yang hendak dipadankan. Matanya tertarik dengan baju t-shirt kuning cair yang terlipat kemas. Terus dicapainya dan dibelek-belek. Nampak kecil baju itu, pasti ianya akan sendat di tubuhnya. Malah, agak singkat. Pasti tundun dan perutnya yang buncit itu jelas kelihatan. Halimah terus memakai coli berwarna hitam dan disarungkan baju t-shirt itu ke tubuhnya. Tubuhnya ibarat sarung nangka yang sendat dibalut baju t-shirt kuning cair yang ketat dan singkat. Seluruh lengkuk dan bonjolan di tubuhnya jelas kelihatan. Dia kelihatan seksi berpakaian sebegitu. Meskipun tubuhnya tidak ramping lagi seperti diusia muda, namun kemontokan tubuhnya yang mengembang seiring dengan usianya benar-benar terserlah. Lengannya yang montok dan gebu kelihatan sendat, begitu juga tubuhnya yang sendat di baluti bau t-shirt itu. Coli hitam yang dipakai dapat dilihat dengan jelas dari baju yang dipakai. Perutnya yang buncit serta tundunnya yang membukit tembam terpampang di balik kain batik yang katat membalut dirinya. Apatah lagi punggungnya. Tubuhnya yang lentik itu semakin menyerlahkan punggungnya yang tonggek lantaran baju t dan kain batik yang dipakai amat sendat. Kemontokan punggung lebarnya yang besar itu tidak mampu disembunyikan oleh baju t-shirtnya. Baju t-shirtnya terselak ke pinggang, menyerlahkan seluruh punggungnya yang sendat dibaluti kain batik merah itu. Halimah mengambil tudung berwarna kuning, dipakai di kepalanya dan kemudian dia terus keluar menuju ke bengkel tempat Meon bekerja.
Suasana di bengkel tersebut tidak terlalu sibuk. Bos Meon keluar minum di kedai kopi di hujung sana, yang tinggal hanya Meon dan seorang pelanggan yang sedang menunggu motorsikalnya siap di baiki Meon. Halimah berjalan menuju ke arah Meon yang sedang mencangkung membaiki sesuatu di bawah enjin motor. Mata pelanggan yang sedang menunggu motorsikalnya siap dibaiki itu terpukau melihat seluruh tubuh montok Halimah yang sedang berjalan menuju ke arah Meon. Buah dada Halimah yang sederhana dan sedikit melayut itu di tatap geram. Perut buncit Halimah yang sendat dibaluti t-shirt itu ditatap penuh nafsu hingga pandangannya turun ke tundunnya yang tembam.
Halimah menghampiri Meon. Meon yang sedar kehadiran emaknya serta merta menghentikan tugasnya sebentar. Pandangan matanya seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seluruh tubuh montok Halimah di tatapnya atas dan bawah.
aEsErraE| makaE| ada apa mak..aEt Tanya Meon kepada emaknya.
aEsTak de.. mak nak tanya je.. Jom balik kejap.. mak ada buat sarapan sikit. Kamu belum sarapan lagi tadi kan?aEt kata Halimah memancing anaknya.
aEsEmmmaE| kejap lagi ye mak.. Meon nak tunggu bos datang dulu.. takut tak siap motor pakcik ni.. aEs jawab Meon.
aEsOkaE| cepat sikit yeaE|aEt kata Halimah sambil berlalu meninggalkan Meon.
Mata Meon dan mata pelanggan itu bulat memerhatikan lenggok punggung Halimah yang montok dan sendat dibaluti kain batik merah itu. Kemudian Meon menyambung kembali tugasnya.
aEsNak.. itu mak kamu ye?aEt Tanya pelanggan yang menunggu motornya siap itu.
aEsYe pakcikaE| kenapa?aEt jawab Meon.
aEsTak ada apa.. ehh.. kamu buat dulu lah ye.. pakcik nak beli rokok kejap..aEt kata pakcik itu.
Meon mengangguk sahaja sementara lelaki itu terus berlalu dari situ. Tujuannya bukanlah ke kedai rokok tetapi mengikut Halimah pulang dari jauh. Kemudian dia nampak Halimah masuk ke rumah melalui pintu dapur. Lelaki itu pun terus menuju ke sana. Pintu dapur yang tidak tertutup itu membolehkan dia melihat kelibat Halimah menyusun juadah sarapan pagi di atas meja.
aEsEhh.. pakcik.. buat apa kat situ?aEt Tanya Halimah setelah disedarinya dirinya diperhatikan oleh seseorang dari luar rumah.
aEsTak ada apaaE| pakcik saja jalan-jalanaE| kamu tinggal disini ye?aEt Tanya lelaki itu.
aEsYe pakcik.. errr.. pakcik yang dekat bengkel tadi kan?aEt Tanya Halimah.
aEsYeaE| ohh.. boleh kita berbual kejap? Boleh saya masuk?aEt Tanya lelaki itu sambil kakinya terus melangkah masuk sebelum dipelawa Halimah.
aEsErraE| oo.. masuklahaE|aEt jawab Halimah serba tak kena.
Kemudian lelaki itu terus berdiri dekat dengan Halimah yang sedang menunduk-nunduk menyediakan sarapan di atas meja. Punggung Halimah yang tonggek dan sendat berkain batik itu ditatapnya geram.
aEsAdik.. saya suka tengok adik ni dari bengkel tadi..aEt kata lelaki itu.
aEsSuaminya mana?aEt Tanya lelaki itu lagi.
aEsDia keluar pergi buang air besar.. tu hah kat jamban belakang rumah..aEt kata Halimah menipu lelaki itu sambil jarinya menunjuk kepada tandas di belakang rumah yang sebenarnya sudah tidak digunakan lagi.
aEsOhhaE| dia ada kat sini ye.. oklahaE| pakcik pun nak cepat ni.. tapi sebelum suami adik tu keluar dari jamban, boleh tak adik tolong pakcik sekejap..aEt kata lelaki itu.
aEsTolong apa pakcik?aEt Tanya Halimah.
Tanpa berkata apa-apa, lelaki itu pun terus mengeluarkan zakarnya yang sudah tegang dari zip seluar yang sudah dibukanya. Dilancap zakarnya sendiri di hadapan Halimah sambil matanya melahap seluruh kemontokan tubuh Halimah.
Halimah tahu kehendak lelaki itu, tetapi dia tidak berselera dengan lelaki yang sudah tua itu. Di lihatnya zakar lelaki itu sudah tegang namun tak semantap kepunyaan anaknya, Meon.
aEsDikaE| Pakcik suka badan adik.. Tolong buatkan pakcik yeaE| tolong yeaE|aEt kata lelaki itu sambil menghulurkan zakarnya kepada Halimah.
aEsApa ni? Baik pakcik keluar sebelum saya jerit kuat-kuat. Biar suami saya belasah pakcik sampai mati. Cepat! Keluar!aEt bentak Halimah sambil terus menolak lelaki itu keluar dari rumah.
Menyedari peluangnya untuk menikmati tubuh wanita montok itu tidak kesampaian, lelaki itu terus melancap laju, dengan harapan air maninya sempat menyembur keluar selagi tubuh montok yang sendat dibaluti pakaian-pakaian yang sendat itu masih di depan mata. Sambil dia berundur ke belakang akibat ditolak oleh Halimah, sambil itulah dia mengambil kesempatan untuk menjamu matanya sambil melancap memerhati tubuh seksi itu.
Akhirnya, memancut-mancut air mani lelaki itu terus ke perut, tundun dan peha Halimah. Habis bertompok baju t dan kain batik Halimah dengan lendir pekat lelaki tua itu. Halimah semakin geram, ditolaknya tubuh lelaki itu lebih kuat. Lelaki itu pun mengambil kesempatan menyimpan zakarnya yang semakin mengecil kembail ke dalam seluar.
aEsOkaE| saya keluaraE| OkaE| terima kasih ye dikaE|aEt kata lelaki tua itu sambil terus keluar dari rumah, sambil tangannya mengambil peluang meramas pinggul Halimah dan terus berlalu keluar dari situ.
Halimah berdebar-debar. Selama ini disangkakan tubuhnya tidak menarik lagi, tetapi nampaknya dia silap. Rupa-rupanya masih ada orang yang mengharap untuk menikmati tubuhnya. Mungkin cara pemakaian yang harus dititik beratkan untuk menampilkan tubuhnya agar kelihatan lebih seksi. Jika sebelum ini, hanya baju kurung yang longgar selalu menyarung tubuhnya untuk keluar rumah, kini Halimah tahu, dia harus lebih berani mengenakan pakaian yang lebih mendedahkan kemontokan tubuhnya. Halimah terus masuk ke bilik, menanggalkan seluruh pakaiannya. Halimah berbogel mencari pakaian di dalam almari pakaian. Matanya tertumpu kepada sepasang kebaya jawa yang terlipat kemas di almarinya. Itu baju yang dipakai sewaktu Meon masih kecil dahulu. Tak tahulah samada masih muat atau tidak. Dengan berhati-hati Halimah menyarungkan kain batik lepas itu di tubuhnya.
aEsHmmaE| ketat jugaaE| tak la teruk sangataE| selesa jugaaE|aEt bisik hati Halimah sambil memusing-musingkan tubuhnya bergaya di hadapan cermin.
Punggungnya kelihatan sendat dibaluti kain batik lepas itu. Tundunnya semakin jelas ketembamannya bersama perutnya yang buncit. Kakinya dihulurkan ke hadapan. Kulit betisnya yang putih dan licin itu terserlah kelihatan dari belahan kainnya. Kainnya diselakkan lagi belahannya dan seluruh kakinya, dari hujung kaki hingga ke peha jelas kelihatan.
Kemudian Halimah memakai baju kebaya berwarna merah yang jarang dan bersulam bunga-bungaan itu. Agak sendat juga membalut tubuhnya tetapi masih boleh selesa dipakai. Halimah bergaya di depan cermin. Seluruh tubuhnya sendat dibaluti kebaya jawa yang ketat. Bajunya yang jarang jelas mempamerkan coli hitam yang terikat di tubuhnya yang putih melepak. Lurah buah dadanya kelihatan jelas di celah bukaan dada baju kebaya. Baju kebayanya kelihatan singkat di paras pinggang, mendedahkan seluruh bentuk pinggungnya yang tonggek dan besar itu terserlah kegebuannya di sebalik kain batik lepas yang sendat. Halimah kemudian terus keluar dari bilik dan menuju ke dapur. Ketika itu dia mendengar suara Meon memberi salam dan kelibat Meon masuk ke dapur mencuri tumpuannya.
Meon terpaku melihat emaknya bergaya sebegitu. Keberahiannya serta merta bangkit dan segera dia memeluk tubuh emaknya. Berkucupan penuh nafsu sambil tangannya meraba seluruh pelusuk tubuh emaknya. Halimah membiarkan segala perbuatan anaknya, dia suka diperlakukan begitu oleh anaknya. Halimah sedar, Meon tak tahan melihat dirinya berpakaian begitu, lalu dua pun terus berlutut di hadapan Meon. Zakar Meon yang keras itu di tarik keluar dari seluar pendek yang Meon pakai. Halimah terus menghisap zakar anaknya yang sedang bernafsu itu.
Meon sungguh terangsang melihat ibunya yang lengkap berbaju kebaya yang sendat itu sedang berlutut menghisap zakarnya. Dia membiarkan emaknya melahap seluruh zakarnya. Zakarnya terasa hangat keluar masuk di mulut comel emaknya.
Halimah juga sudah terangsang. Lalu dia terus bangun berdiri dan memeluk tubuh sasa Meon. Zakar Meon yang keras di himpit di perutnya yang lembut. Terasa kehangatan zakar anaknya seolah menyerap masuk ke daging dan lemak perutnya yang buncit.
aEsMeon sayang mak takaE| aEs Tanya Halimah sambil tangannya mula merocoh zakar anaknya.
aEsSayanggg sangataE|. Kenapa mak pakai baju lawa-lawa macam niaE|aEt Tanya Meon.
aEsHari ni hari istimewaaE|. Mak rindu sangat kat MeonaE|aEt kata Halimah.
Mereka kembali berkucupan seperti sepasang kekasih. Masing-masing saling meraba tubuh pasangan dengan penuh bernafsu. Halimah yang tahu keinginan Meon, terus menonggeng sambil berpaut di tepi meja makan. Punggungnya di gelek-gelek menggoda. Meon terus menyelak kain batik lepas emaknya dan terus menusuk zakar kerasnya masuk jauh ke lubuk gatal emaknya yang banjir itu. Tangannya memegang pinggul emaknya dan dia terus memacu sekuat hatinya.
Terjerit-jerit Halimah kesedapan menikmati tubuhnya dibelasah anaknya dalam keadaan menonggeng di meja makan. Halimah melentikkan tubuhnya dan ini membuatkan Meon semakin tak boleh tahan. Tubuh emaknya yang gebu dan sendat berbaju kebaya itu menggoncang nafsunya. Zakarnya semakin meleding keras mengembang pesat di dalam cipap emaknya. Nafsnya semakin terburu-buru seiring dengan peluh jantannya yang semakin timbul di dahinya. AkhirnyaaE|
aEsCriiitttt!!! Criitttttt!!!aEt memancut-mancut air mani Meon membanjiri liang faraj emaknya.
Halimah mengemut zakar Meon agar mereka menikmati saat-saat indah itu dengan lebih lama. Dan setelah selesai, mereka bersarapan bersama-sama. Selepas bersarapan, Meon kembali ke bengkel dan menyambung kerjanya, sementara Halimah mengemas meja dapur.
Tiba-tiba, kedengaran suara lelaki memberi salam. Dia kenal akan suara itu. Segera dia menuju ke pintu dapur. Terlihat suaminya tersenyum-senyum berjalan menuju ke arahnya dari kereta yang diletakkan di halaman rumah.
aEsEhhaE| abangaE|. Ada apa-apa yang tertinggal ke bangaE|aEt Tanya Halimah sambil tersenyum ke arah suaminya.
aEsMesin gergaji tertinggal la MahaE| Eh.. cantiknya Mah hari ni? Kenapa ni?aEt Tanya Sidek sambil terus masuk ke rumah.
aEsAlahaE| tadi Mah belek-belek baju-baju lama kat almari tu. Ternampak pulak baju kebaya ni. Tu yang Mah cuba pakai. Ok tak bang?aEt Tanya Halimah kepada suaminya.
aEsHmmaE| ok jugaaE| tak tahan abang tengok sarung nangka ni.. aEs kata suaminya sambil tangannya meraba perut dan tundun isterinya.
Mereka berdua masuk ke dalam bilik. Halimah memulakan langkah mengucup bibir suaminya. Sidek tak tahan memeluk tubuh Halimah. Tangannya meramas setiap inci tubuh isterinya yang montok berlemak itu. Halimah menanggalkan seluar suaminya dan terus menangkap zakar suaminya yang keras menegak. Dilancapkan zakar suaminya hingga Sidek menggeliat kesedapan.
aEsMahaE| hisap batang abang MahaE| aEs pinta Sidek kepada isterinya.
Halimah menurut. Dia terus melabuhkan punggung di tepi katil. Sidek berdiri merapati isterinya. Zakarnya yang keras itu didekatkan ke muka isterinya. Halimah terus mengolom zakar Sidek. Mulutnya menghisap zakar Sidek penuh perasaan, hingga matanya terpejam menikmati zakar lelaki yang keras menongkah mulutnya.
aEsOhhhaE| sedapnya MahhaE|. Hisap kuat lagi sayangggaE| aEs pinta Sidek penuh nafsu.
Halimah semakin galak menghisap zakar suaminya. Kepala takuk Sidek yang berkilat itu di nyonyot kuat. Sesekali lidahnya menyapu seluruh kepala zakar Sidek penuh nafsu. Sidek tak tahan diperlakukan sebegitu. Dia benar-benar merasakan nikmat diperlakukan sebegitu. Halimah mahu Sidek puas di mulutnya. Dia mahu Sidek cepat pergi kerja. Lagi cepat Sidek meninggalkan rumah lagi bagus. Hatinya berdebar-debar juga. Nasib baik Sidek balik bukan sewaktu dia dan anaknya berasmara di dapur tadi. Jika tidak, pasti buruk padahnya.
Sidek semakin tak tahan, hisapan dan koloman Halimah di zakarnya semakin laju dan menyedapkan. Bunyi air liur yang Halimah sedut menambah keberahian Sidek. Akhirnya, memancut-mancut air mani Sidek menyembur di dalam mulut Halimah. Halimah seperti biasa, meneguk setiap air mani yang ditakungnya. Berdegup-degup tekaknya meneguk air mani Sidek yang pekat dan kental itu.
Sidek kepuasan, terduduk di tepi Halimah yang menyandarkan kepala di bahunya. Tangan Sidek sibuk meramas seluruh punggung Halimah. Halimah membiarkan.
aEsAbangaE| nanti tak terlewat ke nak ke tempat kerja. Dah pukul 10 pagi ni..aEt kata Halimah.
aEsAlah sabarlah sayangaE|. Kalau dapat lagi seround dua ke apa salahnyaaE| aEs kata Sidek sambil tangannya mula menjalar masuk ke belahan kain batik lepas Halimah.
Tangan Sidek mengusap peha Halimah yang licin dan gebu itu. Kemudian tangannya meraba bulu-bulu halus di tundun Halimah yang tembam dan seterusnya jarinya menjalar ke belahan kelengkang Halimah yang becak itu.
Sidek bermain-main jarinya di lubuk berahi Halimah. Halimah terangsang. Jari hantu Sidek masuk menerobos ke lubang berahinya, hingga diselaputi cairan yang licin dan melekit. Berulang-ulang kali Sidek menjolok cipap Halimah dengan jarinya. Halimah hanya membiarkan penuh rela. Matanya terpejam menikmati cipapnya dilancapkan suaminya.
Sidek mengeluarkan jarinya dari lubang cipap Halimah, jarinya yang berlumuran dengan lendir itu di cium. Serta merta mukanya berubah.
aEsMahaE|. Cuba bagi tahu abangaE| Macam mana boleh ada air mani dalam cipap Mah?aEt Tanya suaminya dalam nada sedikit marah.
aEsAlah abang niaE| bukan ke itu air mani abang.. bukan ke pagi tadi kita mainaE| aEs kata Halimah sambil terus bangun berdiri melindungi cipapnya dari disentuh lagi oleh Sidek.
aEsHeyaE| mana ada.. Bila masa pulak abang lepas dalam cipap Mah? Bukan ke pagi tadi Mah yang mintak abang lepas dalam bontot? Lebih baik Mah cakap.. air mani siapa niaE| jangan fakir abang tak kenal baunya! aEs marah Sidek.
Halimah serta merta kaget. Wajahnya pucat lesi, peluh dingin mula menitik di dahinya. Dia terlupa, bahawa pada pagi itu, dia sendiri yang menginginkan lubang bontotnya disetubuhi zakar suaminya. Halimah sudah tiada alas an lagi yang hendak diberikan. Dia terus diam membisu.
aEsMahaE| abang tak sangkaaE| Mah curang belakang abang! Ini baru sekejap je abang tinggalkan.. Ntah macam mana kalau dah kena tinggal berbulan nantiaE| Abang kecewa Mah! Abang kecewa Mah!aEt herdik Sidek.
aEsBaiklahaE| abang nak Mah bagi tahuaE| siapa punya kerja ni?!aEt Tanya Sidek.
Halimah diam. Walau mati pun dia tidak akan beritahu siapa punya angkara. Pasti teruk nanti kalau suaminya tahu itu adalah hasil hubungan sulit antara dia dan anaknya, Meon. Sidek terus bertanyakan soalan yang sama. Malah semakin keras. Namun setelah bosan dengan sikap Halimah yang membisu seribu bahasa.
Akhirnya Sidek mengalah. Dia kemudian membawa masalah itu ke pejabat agama daerah. Akhirnya Halimah diceraikan dengan talak 1 bersaksikan hakim dan hak penjagaan anak diserahkan kepada Sidek. Dimahkamah, Halimah hanya diam membisu tidak berkata-apa-apa. Hatinya bagai menanti detik kegembiraan yang sekian lama dinantikan. Selepas sah dirinya diceraikan, dia bagaikan terlepas dari belenggu. Shidah tidak lagi menetap bersamanya, dia dijaga oleh neneknya, ibu mertuanya yang juga ibu suaminya. Tetapi Meon mengambil keputusan untuk menetap bersama Halimah atas alasan sudah lebih had umur penjagaan dan sudah bekerja serta mampu menjaga diri sendiri. Lebih-lebih lagi dia memberikan alasan supaya dapat menjaga emaknya yang kini menjanda dan sendirian.
aEsMeonaE| Abah nak cakap sikitaE|aEt kata Sidek sambil menarik Meon ke satu sudut yang tiada orang di luar mahkamah.
aEsAbah nak kau jaga mak kau baik-baik. Shidah biar abah yang jaga sebab abah dapat hak untuk jaga dia. Kau perhatikan sikit mak kau tu. Kalau kau nampak ada lelaki lain dengan dia, terpulanglah kepada kau nak pelupuh belasah sampai cacat atau mampus. Aku dah tak ada hati lagi dengan mak kau. Tapi kalau dia cakap nak kawin, kau suruh dia kawin cepat-cepat. Faham?aEt terang Sidek kepada Meon.
Meon mengangguk tanda faham akan setiap permintaan ayahnya. Di hatinya berdebar-debar membayangkan bagaimanakah agaknya nanti bila hanya tinggal dia dan emaknya sahaja yang hidup bersama. Malah ada juga rasa bersalah di hatinya kerana akibat keterlanjurannya bersama emaknyalah ibu bapa dia bercerai berai. Nasib baik ayahnya tak tahu benih siapakah yang dipersoalkan lantaran emaknya yang mengambil sikap tutup mulut dan berdiam diri demi melindungi hakikat sebenar hubungan sulit mereka dua beranak.
Sepanjang perjalanan pulang, Halimah yang membonceng di belakang Meon memeluk rapat anak bujangnya. Sesekali jika ada peluang, zakar anaknya di usap-usap. Meon membiarkan sahaja perbuatan gatal emaknya itu. Di bibirnya terukir senyuman kemenangan untuk memiliki ibunya. Baginya, tiada perempuan lain yang mampu memberikan kenikmatan sehebat emaknya. Malahan, baginya, tubuh emaknya sudah cukup lengkap dan sudah cukup seksi untuk dirinya. Meon sudah mula terfikir, apakah perkara pertama yang ingin dilakukan setibanya di rumah nanti.
Halimah rapat memeluk Meon. Buah dadanya sengaja di tekan ke tubuh anaknya. Tangannya menyeluk kelengkang Meon sebaik sahaja mereka memasuki halaman rumah mereka. Rasa cintanya kepada Meon semakin meluap-luap. Perasaan Halimah ibarat seorang pengantin yang baru pulang dari bernikah. Tidak sabar rasanya ingin mempersembahkan tubuhnya kepada maharaja yang masih muda dan gagah. Malah baru lepas memenangi tubuhnya di medan perang.
Halimah membawa Meon masuk ke bilik. Meon memaut pinggang emaknya dan meramas punggung emaknya yang lembut dan berlemak. Bibir mereka mula memagut sesama sendiri setibanya di tepi katil di dalam bilik Halimah. Benteng yang selama ini menjadi pemisah untuk selalu bersama akhirnya runtuh sudah. Tiada lagi halangan, tiada lagi gangguan. Setiap masa, dan setiap hari adalah detik bersama yang terlalu sukar untuk di ucapkan. Bagaikan pengantin baru mereka berkelakuan sewaktu berdua-duaan di rumah. Sampaikan sanggup Meon mengambil cuti seminggu demi menikmati peluang menyetubuhi tubuh seorang wanita yang hampir pencen, yang sentiasa ketagihan zakarnya dan benar-benar memuaskannya.
Cukuplah masa seminggu, tubuh Meon yang sasa semakin susut, Halimah sampai demam-demam. Semuanya gara-gara kemaruk menikmati setiap inci tubuh pasangan. Maklumlah bagaikan pengantin baru. Terciptalah sebuah kasih sayang, yang penuh nafsu, dan tidak kenal jemu, sepasang kekasih yang terlalu sebati laksana suami isteri, hidup di alam nan nyata bertopengkan watak sepasang ibu dan anak

cerita dewasa | cerita panas Birahi Ibu Alim

----- ADS TOP POST DESKTOP ---
cerita dewasa | cerita panas Birahi Ibu Alim
[17+] Selamat Menikmati Cerita Dewasa, cerita panas, cerita hot, TERBARU!!!

Birahi Ibu Alim


Ufhhh.. akhirnya usai sudah kegiatan yang menjemukan selama 2 minggu di sini…dan aku mo balik ke Jakarta untuk refresh neh…oh iya namaku Andi umur 30 tahun sekarang aku bekerja di perusahaan swasta, ciri2 tubuhkan yahh..untuk postur Indonesia udah cukup di perhitungkan neh..heheheh…

Besok aku mo pulang ke Jakarta setelah mengikuti kegiatan dari Perusahaan di Kota ini di ujung Timur Indonesia neh…aku mo naik kapal laut aja dech…karena selama ini kalau bepergian aku belum pernah naik kapal laut…so akan aku coba aja dech walaupun itu di tempuh dng lama perjalanan 1 minggu…wahhhh…pusing juga neh…setelah membeli Tiket kapal laut kelas 1 aku langsung berkemas-kemas untuk persiapan besoknya berangkat.

Tiba saat nya aku menuju pelabuhan…setelah segala macam proses pemeriksaan tiket dan bercampur aduk dengan para penumpang..so akhirnya aku naik dan masuk ke kamarku yang kelas 1 dan tentunya kamar kelas 1 aku yang sendiri menempatinya…langsung aku bergegas membersihkan diri (mandi neh..) setelah mandi diatas…aku berjalan-jalan di Dek kapal sambil menunggu sebentar lagi kapal akan berangkat..wahhh..kalo selama 1 minggu diatas kapal tidak ada yang bisa bikin buat seger…jadi tambah pusing neh .”ujarku di dalam hati..setelah melihat-lihat sekeling kapal dan akhirnya aku berdiri di pinggiran kapal sambil melihat kebawah siapa tau aja ada yang bisa nemanin aku selama seminggu ini hehehhe..

Mataku tertuju pada seorang ibu muda berjilbab kira-kira berumur 27 tahunan bersama anak nya yang kira-kira 5 tahunan lah dan sebelahnya di antar seorang lelaki yang kemudian mencium kening ibu itu dan anaknya…setelah itu mereka berdua naik ke kapal dan tak lama kemudian kapal berangkat meninggalkan pelabuhan dan lelaki itu melambaikan tangganya kepada ibu dan anaknya…setelah kapal menjauh dari pelabuhan, hmmm aku mulai mendekati ibu muda itu dan mulai berkenalan…”nama ku Andi, aku tujuan Jakarta “ujarku. Ibu itu sekilas melihat aku dan senyumnya mengembang di bibirnya yang tipis. Tak lama kemudian di berucap : namaku Lia’ ini anakku dan tujuan juga ke Jakarta”ucapnya. Akhinya kita saling ngobrol2 dan ternyata tadi adalah suaminya yang bekerja di kota ini dan Lia setiap 6 bulan sekali datang bersama anaknya untuk melepas rindu sama sang suami…walahh..kuat juga yach..kalo aku kagak nahannnn…(hehehe)

Besok pagi disaat waktu makan pagi aku melihat Lia bersama anaknya sedang menuju ruang makan..aku melihat dari belakang…hmmmm berisi juga neh pantatnya, padahal sudah di tutupi gaun yang menutupi sampai mata kaki neh’ujarku dalam hati…langsung aku menemuinya dan kita makan bersama-sama 1 meja..sambil aku ngelirik ke arahnya…wow…sempat aku melihat bentuk payudaranya yang ditutupi oleh jilbab dan bajunya …lumayan mengkal neh…waduh jadi pikiran kotor neh…Lia, di kelas 1 juga yach”tanyaku…”tidak mas aku ambil di kelas 2 aja kok”jawabnya sambil senyumnya mengembang dari bibirnya yang tipis dan basah..”ooohhh kalo aku di kelas 1, abis sendirian aja sih…pengen tenang dan rileks aja”ucapku sekenanya.. Lia juga sendiri kok, dari tadi malam belum ada penumpang yang sekamar dengan lia, jadinya lia Cuma ditemani anakku aja neh’sahutnya..oh gitu yach…brarti aku bisa dong main2 ke kamarmu”tanyaku. “ bisa aja kok, kita khan di satu gang..tadi malam mas khan sempat keluar aku melihat kok”ujarnya…oh ya…aku mo cari rokok tuch semalam”sahutku lagi.

Setelah selesai makan pagi, kita bersama-sama jalan di koridor kapal sambil bercerita dan diiringi guyonan kecil-kecil..karena di luar koridor..angin cukup kencang…maka saat aku berjalan disampingnya…hmmm aku mencium bau wangi yang sangat harum dan melihat putihnya leher ibu berjilbab ini…oh seandainya aku dapat menidurinya…”bisikku di dalam hati.

Hari kedua belum terjadi apa2 diantara kami, namun setelah makan sore…iseng-iseng aku mengetuk pintu kamarnya “Lia, ini aku andi…boleh aku masuk,”tanyaku. Tak lama kemudian pintu terbuka dan muncul kepalanya yang ditutupi oleh jilbab seadanya dan menggunakan terusan daster…hmmm aku liat dia..tidak mengurangi kecantikan dan kemontokannya kok..”silahkan masuk mas,”ujarnya pelan…Maaf anakku baru aja tidur dan aku baru tidurin dia neh” sahutnya. Dikarenakan kita nggak mau mengganggu anaknya, so kita duduk di satu tempat tidur yang lain…sambil bercerita..aku memandangnya ohhhh…semakin lama disini aku semakin tidak kuat menahan birahi ku..”ujarku didalam hati. Saat kita sedang bercerita..dasternya tersingkap sampai dengan lututnya..uppss.spontan aku mengatakan,”mulus sekali kakimu lia yah..pasti kamu rawat dengan baik dan secara sempurnya,”ujarku sambil tanganku mengelus-elus betisnya…secara refleks..langsung dia menarik kakinya dari tanganku…sambil berujar..ah mas Andi bisa-bisa aja nih”senyumnya mengembang dari bibirnya yang tipis dan basah…namun aku tetap memegang betisnya dan bahkan menggeser kan tanganku keatas…ah Mas…jangan gitu ach…nggak enak neh…”sahutnya…namun aku tak berkata-kata lagi..langsung aku sibakkan dasternya sampai ke pahanya…dan langsung kuciumi dan kujilati pahanya…sluuurrrppp..Ohhhhhh Mass jangan dong…”ujarnya…namun Lia tidak menarik pahanya dari mulutku…tanganya malahan memegang kepalaku dan seolah-olah menekan – nekan …sluurrrppp…slururrpppp..ssshh hh…oh mas…jjaannn…gannn….”pekik lia pelan..namun aku tetap melanjutkan jilatanku sampai ke pangkal pahanya…dan secara cepat aku menarik celana dalam nya turun …dan sluuurrrppp ku jilati memeknya yang penuh dengan bulu-bulu…oohhhh…mas andiii….oohhh…”desahnya..kujil ati itilnya slururpp.sluruppp..shhhh…ohhh mass…aduuuhhh…ahhhh…jeritnya pelan…setelah sekitar 15 menit aku bermain lidahku di memeknya..langsung aku memberhentikan kegiatanku dan kuangkat kepalaku keatas…kulihat Lia memejam matanya menahan kenikmatan yang baru dia rasakan..ohhh aku liat begitu indah pemandangan didepanku..Ibu muda, cantik dan berjilbab menggunakan daster setengah telanjang sedang menanti kontol neh…langsung ku hampiri bibirnya yang sedari kemarin aku inginkan…sluuup..smmm…hmmm…kit a langsung bersilat lidah..tak lupa tanganku menggerayangi payudaranya…ohhh…mas..pintar sekali kamu,…ohhhh..achhh.. ku turunin lidahku menuju payudaranya dan ku gigit2 kecil dari luar dasternya…ohh..mass…cepaattt…n anti anakku bangun”bisiknya pelan…langsung tanpa ada yang perintah, kubuka celana panjang dan sekalian celana dalamku…upps…besar sekali mas punyamu”sahutnya….silahkan lia …apa yang kamu inginkan…”ujarku. Lia langsung menyodorkan mulutnya dan menghisap kontolku dengan mahirnya…ugghhhhff…Lia kamu pintar juga yach…sama suamimu juga sering beginian yach…mmrmmmrpp..nggak masss…jarang kok…setelah sekian menit..aku langsung memberhentikan isapannya pada kontolku dan langsung menaikkan dasternya tanpa melepas jilbabnya…dan Lia membuka kedua pahanya menanti kontolku memasuki dirinya…ayok mas..cepatan ohhggghh…pelan-pelan kutempelkan kontolku di permukaan memeknya…oufghhhh…baru aja kepala kontolku masuk…udah terasa nikmat…dooorong mas…enaeekkk mass…oughhhh…kudorong pelan-pelan masuk…dan bleeeeeeeeeesss..ughhf akhirnya masuk semua kontolku kedalam memeknya..kudiami beberapa saat..dan mulailah ku pompa kontolku di dalam memeknya…srooopp..croopppp…sle rrrrppp…ohhh…enak sekali memekmu lia…..iiyyyyaa…kontolmu juga enak mass….oohhh…terusin mass…. Aku sengaja tidak membuka jilbab dan dasternya…takut kalo anaknya tiba-tiba bangun….teruuusss mass…yang cepatt…ooohhh…sruuuppp…sreettt …croooppp..celllelel ppp..belle…aku pompa terus memeknya sampai kira-kira setengah jam…kulihat Lia sudah mulai tanda-tanda mau keluar…oohhh mass…cepatannnn..lia udah mo keluar….sabarr yah..mas juga udah mau keluar yah…uggghh lia..kita sama-sama keluarin yah…ooohhhsllluuppp…oohhh…achh hh…akhirnya lia telah keluar dan semenit kemudian menyusul aku menyemprotkan air mani ku ke memeknya..crootttt..corroooot. corootttttt…uuffhhhh ..mas banyak sekali air manimu neh…setelah kita tenang…langsung lia ke kamar mandi membersihkan air mani ku yang mulai meleleh di pahanya…aku menunggu dia keluar dari kamar mandi dan aku bilang minta maaf yah..bahwa aku kebawa nafsu sih…dia bilang nggak apa2 kok…sama dengan dia juga…aku mohon izin untuk kembali ke kamarku dulu dikarenakan jam sudah menunjukan pukul 10 malam.

Besok pagi disaat waktu makan pagi, aku mengetok kamarnya…Lia…kita sarapan pagi yook”ujarku pelan..tak lama pintu terbuka dan lia telah siap dengan pakaian longdres panjang dan berjilbab…uugghhh cantiknya dia..dan menyilahkan ku masuk…anakku belum bangun neh”jawabnya..jadi gimana dong..kita tunggu bentaran aja yach”tanyanya..akhirnya kita ngobrol-ngobrol…ehh..udah sekitar setengah jam..anaknya belum bangun juga neh..tau-tau kita malahan saling pegang-pegangan tangan…Lia kamu cantik sekali…”ujarku…ach mas ini..Lia biasa-biasa aja kok”ucapnya malu-malu…langsung ku susup lidahku ke mulutnya…hmmmmpppff…jangan ach mas…ntar anakku bangun lho” sahutnya..sebenntarr aja yach lia”ucapku memelas….hmmmm gimana yach “jawab lia… tanpa menunggu jawabannya…langsung kuciumi bibirnya yang merah dan basah itu…sluruurupp…hmmpfghh…oohhh. .masshh…langsung ku mainkan lidahku di dalam mulutnya..cuupppss…smshhsh…ooh h…tanpa membuka jilbabnya…langsung kunaikkan longdress nya….kuturunin celana dalamnya….oohhh…udah basah juga neh…memeknya…ssss..ssss mas….oohhh…..cepat-cepat ku balikin dia…aku pengen gaya nungging…ohhh mas….kuangkat kakinya satu….dan mulai kutusukkan kontolku ….ssss…oougghhh..blessss…sssss llreepp…mmrrpp oohhh mas…nikmat sekaliii…..liiaa…memekmu juga enaakakk….oougghhhaaa…ooohhh…y ang cepat mas…..kupompa kontolku…srooortkkk..sluururpp p…sreet…bellsss..ufg hhh…masss…enak sekali….hmmmm…iya …yyahh…oohhh..lia ayookk kita keluarin bersama-sama….ooggghh…mass…. aku mo keluarrrrr…oogghhrrr…ahhhhh….l ngsung badannya lia jatuh ke tempat tidur sambil tetap menungging membelakangi aku…dan tanpa menunggu lagi kutusukkan kontolku lagi…bleessssssssss….oohhhh masss…enakkk….cepattttaaannn…i iiiiyya lia..ooohh mas hampir keluar neh….oghhhsoohhhh…liaa….siiapp p…croootttttt…croott t…..crooott ughhh…tumpah ruah air maniku kedalam memeknya lagi…tak lama air maniku keluar…so anaknya juga udah mulai bangun dan kita langsung bereskan diri…dan menuju ruang makan.

Selama empat hari kita selalu bercinta, namun lia tidak pernah telanjang alias jilbab dan bajunya masih menempel di badan…dan aku pun tak bermasalahkan itu…yang penting memeknya yang ranum hhmmmm…hingga suatu malam hari ke enam dan rencananya besok kapal kita sudah nyampe di Jakarta…aku sedang santai sambil tiduran di dalam kamar hanya mengenakan celana pendek…tok…tok…kudengar ketukan pintu kamar ku, “siapa yah” tanyaku…ini lia mas”jawab suara diluar. Serta merta aku berdiri dan membuka pintu…hmmm..kulihat lia hanya mengenakan daster panjang tanpa mengenakan jilbab…ohhhh..cantiknya dan putih sekali lehernya itu…semenit aku terpana di depan pintu…dan Mas…boleh aku masuk”tanyanya…langsung aku tersentak kaget…oh iya..ya silahkan lia”sahutku..ada apa ne lia, malam2 kesini”tanyaku…ndak neh aku mo nanya aja ..besok khan kita udah nyampe Jakarta, trus mas langsung pulang yah” tanyanya. Jawabku. Iya sih…soalnya lusa udah masuk ngantor…terangku kepadanya. Ooooohh..ya udah deh lia langsung pulang ke kampung aja dech..jawabnya. setelah kita ngobrol panjang lebar..Lia pamitan mo kembali ke kamarnya, dikarnakan jam udah menunjukan pukul 9 malam, namun disaat dia mo berdiri, ku pegang tangannya…dan kuciumi sambil ku jilati telapak tangannya sampai ke pangkal lengannya…oouuhhh mas…geli ahh…tanpa ku jawab…kujilati lehernya yang putih mulus itu…sluurrppp..slurppp…shhhh…s sss oohh mas…sluurrp.…kutelusuri lehernya yang jenjang…kadang kugigit-gigit kecil…oowhh…massss…ohhh..Lia aku ingin bersamamu malam ini”ujarku…dia diam sambil menundukkan kepalanya….hmmmmm..tanpa tunggu jawabannya..langsun ku gendong dan ku bawa ke tempat tidur…mulai kuciumi bibirnya yang ranum…rhmmmm..sluruppp….ssshhm m..ohssss… lia sungguh enak bibirmu..hhmmsfh..ku buka perlahan-lahan dasternya…oohhhh…ternyata lia tidak memakai Bh dan celana dalam…sluruuurpp…slururpp…hmmm m…langsung ku jilati payudaranya yang putih mengkal…sluuruppp..ohhhssss…ma sssnnn…stertuuuusss… ucapnya terbata-bata. Kutelusuri lidahku ke memeknya yang rimbun…sluruuupp..kujilati itilnya…oohhhhsss….langsung kubalikan badanku tepat kontolku di mulutnya ….slruuup…oougfhhh…hmmmsssllii pp…kontolku langsung diisapnya…sambil tak lupa kuhisap juga memeknya yang ranum ini…ohhh mas….aku udah nggak tahan….tuussuuukk mas….saabbarrr…lia…aku ingin malam ini berkesan sekali’ujarku….oohhsusss…kujil ati terus sampai terasa banyak lendir yang keluar dari memeknya lia…massssssss….langsung ku ubah posisiku…dan siap-siap kutusukkan kontolku ini…slleeeeerrpp.. blesssshh..oohhhhh..crororlkkk …crorokk..crokk..ohh mas..enak sekali… kuangkat kakinya yang satu sambil terus kupompa kontolku …smsmshhggoouuhhh…..mass… teruskan masss….ennaakkk…sroorkkk..coro rkk…setelah setengah jam..saat-saat aku mo keluar..langsung ku minta lia untuk berbalik dan kutusukan kontolku lewat belakang (gaya doggy)…oougghhhh…enak sekali memek mu lia.’’sahutku…blesss…blesss…ma ss…enakk.. ku pompa kontolku secara cepat….dan akhirnya…lia kita keluarin sama-sama yah…iiiiiyyya mass…ohhhuuu…sssss..hhhh massss…aaaaaaaaaahhhh..kuteria k agak keras…dan akhirnya air pejuku muntah juga kedalam memeknya…oh mas enak sekali…lia lemas neh”sahutnya…setelah beberapa menit..lia mohon pamit kembali ke kamarnya karena sudah tinggalin anaknya 3 jam tuh..akhirnya aku juga tidur.

Keesokan harinya…kita berdua terlambat bangun pagi.. dan aku pikir lebih baik bersiap-siap aja untuk beberapa jam akan sandar di pelabuhan tanjung priok…saat aku lagi berbenah-benah..kudengar ketokan di pintu dan suaranya lia terdengar dari luar sana, Mas..udah siap-siapan yah..tanyanya. iya neh..sambil ku lirik dia membawa anaknya…ayo masuk dulu..”jawabku..Lia udah siapin barang-barangnya yah”tanyaku…ya udah lah mas, maka itu kita kesini mo memastikan, siapa tau mas masih belum bangun…gara-gara semalam”bisiknya di telingaku….hhmmm lia…kamu itu makin menggemaskan aja”sambil ku colek pantatnya…wow…kelihatannya dia nggak pake celana dalam neh.”ucapku dalam hati…aku jadi pengen buktiin neh…tapi bagaimana yach…? Soalnya dia bersama anaknya neh…dan sebentar lagi kira-kira 2 jam an udah mo nyampe di pelabuhan neh…waaahhh..aku jadi tambah panas dingin neh…kulihat lia menghempaskan pantatnya di tempat tidurku…anaknya juga disebelahnya…Lia kamu kok tambah cantik yah, memakai jilbab dan terusan (longdress) itu”ujarku.. ahh mas ini pasti kalo ngebilang itu ada maunya yach”selidiknya sambil senyum… langsung ku jawab ; tau aja”sahutku. Sambil kubereskan pakaianku dan kumasukin ke dalam tas, ku lihat anaknya udah mulai rewel neh…ndak tau kenapa yah..kali aja udah mulai ngantuk atau udah tau yah mamanya mo pikiran ngeres  “mama..ari kembali ke kamar dulu yach…”Tanya anaknya..mo ngapain ri…”anya mamanya, mo bobo bentaran aja…ngantuk neh…ohh ya udah…kalo gitu, ntar lagi mama nyusul…khan tinggal sejam lagi kita nyampe…ari bobo dulu yah ntar mama bangunin”sahut mamanya..langsung serta merta ari pamit ke kamarnya dan kututup pintu kamarku…..tanpa menunggu lama lagi…kuangkat longdress nya…oohhhh.. mass mo ngapain “pekik lia…hmmmmppp…betul yang kuduga..lia tidak pake celana dalam…pasti udah mo ngerasain kontolku lagi yah…langsung kujilati saja memeknya…sluuurppr..sluurprp…o ughhs…hmmmmss..masss …achhh…mass…setelah sekian menit langsung ku angkat kakinya satu di atas tempat tidur dan kutusukan kontolku ke memeknya…blessssss….srelllpp…. slleeeeeppp…bleessss ….ooouughhh…massssss….nikkmmaa ttt….sssss…cloopp.cl op..karena waktu yang terbatas…aku semakin cepat memompa memeknya.croooppp..cloppp..bun yi paha kita beradu…sluruuru…belssslsss..ss sshh..masss aku sungguh tidak bisass melupakanmu…ooohhh..liiaaa…mme mekmu sungguh legiiit…slreeepp..sloopp..cepa tan mas…langsung ku pompa lebih cepat lagi dan akhirnya…oooooohhhh…aaaaaaaahh hh lia…siaapp aku mo keluar…uuggghhh…croooot.crooto tt…croooot…pejuku keluar langsung mengisi rahimnya lagi…dan ooohhh mas…sungguh nikmat kontol dan air manimu itu “sahut lia..langsung tak lama pengumuman dari ABK bahwa setengah jam lagi kapal akan bersandar di Pelabuhan tanjung priok…serta merta kita berdua bergegas merapikan kembali pakaian dan lia kembali ke kamarnya dan aku langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lagi..sebelum aku mandi ku bilang sama dia; pake celana dalam mu yah, soalnya nanti bisa diliat orang dan takutnya nanti aku minta lagi neh”ujarku…dibalasnya lia dengan memegang kontolku…hmmmmm…kontol yang nikmat”ujarnya..

Kapal sudah berlabuh di pelabuhan dan kita berdua sudah tiba di dermaga dan saat nya kita berpisah..masing-masing dari kita memberikan alamat rumah dan berharap di lain waktu kita bisa bertemu lagi…lambaian tanganku menyertai kepergian lia dan anaknya ke kampungnya…Oh lia…engkau memang birahi yang tak pernah padam…walaupun tubuhmu tertutup jilbab dan gaun panjang…namun kamu tidak bisa mempungkiri hatimu….

cerita sex | cerita panas | ketika hujan

----- ADS TOP POST DESKTOP ---
cerita sex | cerita panas | ketika hujan
[17+] Selamat Menikmati Cerita Dewasa, cerita panas, cerita hot, TERBARU!!!

Ketika Hujan Turun


Namaku Nessa, samaran tentunya. Saat ini aku sedang menyelesaikan skripsi S1 di kota B. Berikut ini adalah salah satu isi diary-ku yang ingin dipublikasikan ke khalayak ramai. Mohon maaf sebelumnya, tapi aku ingin beritahukan bahwa aku menggunakan account email sobat tercintaku Dytha, seorang cowok yang baik hati dan penuh perhatian.
Bandung, 6 Desember 1999
“Tok…tokkk…tokkkkkkk..”
“Nes, kuliah nggak loe?” suara Risa terdengar tak sabar menunggu di luar pintu kamar mandi.
Aku masih sempat terbayang perlakuan pria itu semalam. Lidah-lidahnya benar-benar membuatku gila dan menyiksa semua syaraf-syaraf kenikmatanku. Perlakuannya yang sulit ditebak, kadang cepat dan kasar, kadang lembut penuh perasaan, membuatku terengah-engah melayang bergoyang dicabik badai. Tiada henti dia membiarkan diriku santai sejenak meresapi gesekan kulit dadanya di ujung-ujung payudaraku. Vaginaku diserang habis-habisan dengan tusukan-tusukannya yang semakin lama semakin menguras staminaku. Dansa kami di atas pembaringan berakhir pada saat musik indah tergantikan suara hujan di luar sana.
Sial..!
Aku mendapati diriku basah kuyup oleh keringat dan baju tidurku yang tak mampu menutupi tubuhku secara normal. Aku beranjak bangun dan membenahi baju tidurku. Sekali lagi aku menghampiri pintu kamarku untuk memastikan kondisinya yang masih aman terkunci. Jam 3:20, Masih beberapa jam untuk melanjutkan tidurku. Aku terpaksa mengganti underwear-ku yang basah oleh keringat bercampur cairan kewanitaanku. Mudah-mudahan pria itu datang lagi ke dalam mimpiku. Berharap semu birahiku terpuaskan kembali.
Hari ini benar-benar lembab dan dingin. Hujan telah mengguyur kota sejak dini hari dengan tetesan-tetesannya. Kadang untuk beberapa puluh menit, tetesan-tetesan itu terhenti seolah memberi kesempatan kepada manusia untuk memikirkan langkah kehidupan selanjutnya. Langit temaram dengan ditemani sinar mentari yang bermalas-malasan. Beberapa gumpalan awan berkumpul seolah sepasang kaki wanita yang sedang berbaring manja.
Untung Risa juga ada kelas yang sama denganku jam 8 ini. Aku bisa ikut menumpang mobilnya dengan aman dari rasa takut macet, basah, atau berdesakan di angkot. Seperti biasa jika bermobil di pagi hari, Risa menghindari simpang jalan D yang selalu macet dan semrawut. Tampaknya lampu lalu lintas sedang ngambek menjalankan tugasnya. Cerita lama…
Kami dapat tiba dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun dan segera menuju kelas kami masing-masing. Selama perkuliahan aku sedikit terpecah berkonsentrasi dengan diiringi mulutku yang selalu menguap.
Hari ini bergerak seperti biasanya. Tiada yang menarik untukku selama waktu yang berputar. Beberapa saat kemudian, aku sudah duduk termangu di sebuah angkot yang membawaku pulang dari kampus tercinta. Risa mungkin sudah pulang duluan. Aku ada kelas lebih dari satu mata kuliah hari ini, pada hari Senen pula! Payung kesayanganku tetap setia mendampingi, sambil sesekali tanganku mengibas rambut yang tertiup angin sejuk dari jendela angkot itu. Entah mengapa desiran angin membuat gairahku kembali bangkit. What’s wrong with me? Begitu tersiksanyakah tubuhku berharap sentuhan dan lambaian seorang pria? Paddy, I really miss You, Honey! Aku hanya bisa mendengar suaramu yang membentang laut dan samudra.
Kerinduanku memuncak saat hanya desahanmu yang terucap. Ohhh… Aku rindu guratan merah di dadaku, tanda nakal yanng tersisa darimu. Hembusan nafasmu yang melahap pori-pori perutku. Begitu cepatnya kewanitaanku melembab hanya dengan sapaanmu yang menggoda. Paddy… I love you. I need you. I want you!
Aku kembali duduk diam tanpa pikiran apapun. Dan tiba-tiba ia naik! Cukup tinggi dan ramping. Kepalanya bergerak ke segala arah untuk mencari tempat duduk yang cocok baginya. Ia menatapku sekejap seolah meminta ijin untuk duduk di tempat kosong di sebelahku. Dengan cekatan ia berbalik arah dan tanpa sengaja ransel di punggungnya menabrak dadaku. “Damn!” runtukku dalam hati. Dengan segera ia memperbaiki posisi duduknya dan tersenyum polos penuh penyesalan. Akhirnya ia bisa duduk dengan tenang ditemani ransel kulit di atas pangkuannya. Ia mengambil sapu tangan dari kantung jeansnya dan menyeka wajahnya. I don’t know why but I like the way he is doing with his stuff. Tanpa sepatah kata, ia bergerak bersandar dan mulai memejamkan matanya seolah menikmati ayunan seorang ibu kepada anaknya yang mau tidur. He’s really cool and rilex.
Angkot bergerak membelah jalan mengarungi hujan. Satu persatu penumpang turun dengan bergegas memusuhi hembusan angin dan hujan. Di simpang Cisitu, angkot berhenti berharap tambahan penumpang yang hanya menyisakan kami berdua, selain supir angkot tentunya. Aku meyakinkan diriku untuk tidak membuang kesempatan ini.
“Pulang kuliah, Mas?” tanyaku tiba-tiba dan cukup mengagetkan dirinya.
“Nope. Cuma ngasih laporan praktikum ke lab aja. Tadi mampir sebentar ke Aquarius nyari CD,” tetap dengan gaya bicaranya yang membuatku semakin tertarik.
“Sekarang udach beli donk?” tanyaku lagi menyelidik.
Dia hanya nyengir dan kemudian menjawab lirih, “Ketipu nich gue. Shit!”
Aku hanya menatapnya bingung.
“Temen gue kemarin bilang dia lihat ada CD yang udach lama gue incer. Gue datangi ke sana dan nggak ada tuch… Pake acara kehujanan lagi!” lanjutnya sambil menghela nafas.
“Emang cari lagu apa sich?” tanyaku lagi.
“Jazz. Tau jazz?” tanggapnya dengan suara berintonasi sedikit mengejekku.
Kurang ajar nich cowok! runtukku dalam hati. Nggak tau apa dia berbicara sama aku yang penikmat jazz juga? Tapi kuakui juga sich, di antara teman-temanku yang cewek, populasi penikmat jazz-nya juga minim. Mungkin dia berpikir aku hanya cewek yang suka musik musiman atau yang biar dicap ikut trend doank.
“Aku suka Fusion. Kamu bukan penikmat mainstream, hip-hop, blues, ato swing khan? tanyaku lagi dengan tatapan penuh penasaran menunggu reaksinya. Tentu saja dia kaget! hihihihii…
“Aku tadi nyari The Best of Rippingtons. Di-release aja belum apalagi dijual…” dengan suaranya yang dibuat lebih hati-hati.
“Russ Freeman, khan? Setauku juga emang belum ada,” jawabku dengan suara bangga.
“By the way, aku Indra,” tangannya terbuka dan segera kubalas bersalaman singkat. “Nessa,” sambil tersenyum.
Tampaknya pembicaraan kami semakin menggairahkan sesuai kesamaan minat. Angkot sudah bergerak kembali menuju tempat mangkalnya yang terakhir. Apakah suatu kebetulan, rumah kost kami relatif dekat walau hanya berjarak 200-an meter saja. Aneh juga sich, di daerah kost kami di Cisitu Indah, angkot yang lewat cuma satu jurusan. Tapi kok nggak pernah ketemu yach? Mungkin itu yang namanya jodoh? Atau nafsuku saja yang menjebak? Aku menerima ajakannya untuk mampir ke tempatnya. Ia berasalan untuk saling bertukar koleksi CD dan berharap aku akan mampir kelak. Am I a slut or what? Tapi aku menikmati perlakuannya ketika kami sepayung berdua menembus rintik hujan dengan rangkulan tangannya di pundakku. Aku jadi teringat sebuah film Indonesia klasik yang pernah kutonton dan aku tersenyum sendiri dibuatnya. Di depan kamar kostnya, ia berhenti sejenak, membuka pintu, dan mempersilahkanku masuk.
“Tolong jaga sikap yach. Kamu di kamar orang!” cetusnya tiba-tiba. Aku sempat bingung, tapi melihat senyumnya yang mengambang aku jadi mengerti. Aku sadar biasanya tuan rumah ngomong, “Ayo silahkan jangan malu-malu. Anggap aja kamar sendiri.” Tapi dia malah ngomong sebaliknya. Sebal!
Sambil dia sibuk sendiri dengan barang-barang dan tas bawaannya, aku punya kesempatan untuk memperhatikan isi ruangan. Kamarnya ditata rapi walau agak sesak dengan barang-barang elektronik di sekelilingnya. Ada poster kartun Donald Duck, Batman, dan beberapa poster lainnya. Tapi ada poster yang membuatku lebih penasaran, “The Funeral of Superman”. Peti mati Superman yang diusung oleh 6 jagoan, dan diikuti oleh semua jagoan-jagoan DC Comics di belakangnya. Aku cukup terkesima melihat banyak sekali figure-figure jagoan dalam 1 poster.
“Ambil dech tuch poster, kalo mau. Tapi harus bugil dulu depanku.” Lagi-lagi ia membuat pernyataan sumbang dan nakal yang membuat kupingku jadi agak panas. Kata-katanya memang kurang ajar untuk percakapan pada awal-awal perkenalan. Aku sama sekali tidak tersinggung! Tapi pilihan kata-katanya membuatku semakin penasaran. Berbeda sekali ketika kami bercakap-cakap di angkot tadi. Apakah keberanian Indra timbul ketika aku mau menerima ajakannya mampir? Apakah dia tipe pria yang membutuhkan waktu dan situasi spesial untuk membuka topeng hasrat dan gairahnya? Ia menyeruak masuk dengan tiba-tiba, sambil kedua tangannya membawa teh hangat mengepul yang sepertinya nikmat sekali. Aku hanya mencibir mananggapinya dan menghampiri teh hangat yang sudah diletakkannya di atas meja belajar. Baru beberapa saat aku menikmati minumanku, dia sudah melangkah keluar kamar lagi. Sibuk bener, pikirku singkat. Atau dia gugup….. Tampaknya ia memang menungguku untuk bergerak duluan. Ia seperti pria yang berusaha menahan situasi tetap terjaga, berharap sang wanita memohon untuk dipuaskan. Aku mengalihkan pandangan pada suatu benda yang kukenal sebagai CD tower. Kuhampiri dan dengan mata berbinar kutelusuri deretan-deretan CD di depanku. Beberapa nama masih kukenal seperti Boney James, Bob James, David Sanborn, Fourplay, Earl Klugh, atau George Benson. Tapi Kirk Whalum, Kevin Mahogany, Mark Whitfield??? siapa tuch? Harus lebih banyak dengar musisi baru nich. Atau mereka musisi senior? Atau aku saja yang kurang wawasan?
Beberapa saat kemudian, suara hujan kedengaran kembali semakin deras. Suaranya bertalu-talu menampar genting dan dedaunan. Sesekali suara guntur menggelegar membahana menemani desiran angin. Aku menarik salah satu album Take 6 dan memainkannya di CD player Pioneer yang teronggok di sebelah CD tower. Alunan “Biggest Part of Me” memenuhi kamar dan aku kembali menyibukkan diri di depan CD tower seperti semula. Sekejap terasa hangat sensual kurasakan di sekitar leher dan telinga. Bulu-bulu halusku menegang menyapa hasratku yang merinding. Aku mengatup mataku perlahan dan meresapi gejolak yang melanda tubuhku.
“Liked that, did you?” suara yang kukenal kembali menyapa.
Untuk menjawab pertanyaannya, kukibas-kibaskan tanganku seolah mendinginkan diriku yang terasa terbakar.
“Let it get hot,” katanya lagi.
“It already is.”
Tangannya menggosok punggungku. “Warm, but not hot yet.”
“Butuh seberapa panas nich?” tanyaku.
Indra bergerak perlahan menjauh dan menatap keluar jendela. Aku dapat melihat detak nadinya di tenggorokan, Adam’s apple-nya bergerak sesaat setiap waktu.
“Bener-bener dingin yea di luar,” katanya. Tapi sepertinya ia tidak membicarakan cuaca.
Aku menghampiri tempat tidurnya yang tertata rapi. Perlahan kubaringkan tubuhku, dan rasa dingin sejuk merayap di sekujur kulitku.
“Sini.” Ia tampak ragu, kembali kami saling berhadapan, tapi matanya menerawang jauh.
“Take your shirt off.”
Perintah itu seolah membawanya kembali ke bumi dan perlahan ia duduk di sisi tempat tidur. Ia menggigit bibir bawahnya, dan kembali lehernya berdetak.
“Slowly.” Aku memberi petunjuk dengan senyum merekah.
“Ya,” jawabnya singkat layaknya pasien yang terhipnotis.
Jari-jarinya merenggut ujung bawah kaosnya dan melepasnya dengan sigap. Terpampanglah dada seorang pria dewasa di depanku. Putingnya yang kecil bulat menegang dengan bertaburkan bulu-bulu halus di sekelilingnya. Urat-urat kebiruan sedikit menonjol di sepanjang lengan dan tangannya. Ia memperhatikan mataku yang menyapu dadanya. Tiba-tiba lengannya terangkat dengan tangan terbuka.
“Kenapa,” ujarnya penasaran.
“Gimme those hands.”
Ia merangkak mendekat di atas tempat tidur mendekatiku.
“Mau diapain?” sepertinya dengan pikiran yang berkecamuk.
“Celanaku basah.”
Ia tersenyum tertahan. “I hope so.”
“No. no. Aku tadi sempat kedudukan bangku yang basah waktu di angkot. Mau bantu aku melepaskannya?”
Ia berkata, “Boleh,” tapi sama sekali tak bergerak.
“Want me to?” Aku meraih ujung celanaku dan mengangkat pantatku. Ia meletakkan salah satu tangannya di perutku untuk menahanku. Ia menatap kakiku, dadaku, dan mulutku. Ketika ia menatap mataku, matanya kembali turun ke bawah. “Sudah cukup lama,” katanya muram.
“Dan kamu udach lapar sekali, khan?”
Ia menarik nafas panjang memenuhi setiap sudut paru-parunya. Badannya bergetar kembali. Aku dapat melihat ketegangan di balik celananya. Posisinya benar-benar merangsangku seperti gelembung balon yang mau pecah. Ia menggenggam dengan tangannya sendiri dan meremasnya. Keras. Menghembuskan nafas dari hidungnya dengan menggigit bibir bawahnya.
Aku mengangkat kembali pantatku dan berusaha melepaskan celana katunku beserta underwear-nya. Aku menunggu usapan tangannya dengan berdebar-debar. Ketika tangan itu datang, elusannya benar-benar halus. Kewanitaanku bergejolak menanggapi sensasi yang dibuatnya. Ia menarik celanaku menggantikan kedua tanganku yang sudah meremas sprei tempat tidur. Aku mengangkat kedua kakiku ke atas untuk memudahkannya terlepas sempurna. Ia melipat celanaku rapi dan meletakkan underwear-ku diatasnya. Tangannya kembali merenggut kedua pahaku dan merenggangkannya.
Wajahnya diletakkan sedekat mungkin dari kewanitaanku. Ia menghirupnya dalam dan menutup matanya. Sekarang giliran Indra yang melenguh tertahan. Tiba-tiba, ia melepas pegangannya di pahaku. Ia bangkit dan melepas celana jeans dan underwear. Kejantanannya mengacung lega di antara kami berdua, menghadap atap kamar yang gemuruh diterpa hujan. Bilur-bilur nadi di sekujur batang kemaluannya menambah nuansa tersendiri. Ia menatapku sesaat dan mengangguk tanpa arti. Tanpa sadar jari jemariku mulai melepas kancing kemejaku dan melempar ke mukanya. Ia tidak kaget, bahkan menangkap kemejaku dengan sigap. Dan ritual melipat pakaiannya terulang kembali. Aku memiringkan tubuhku.
“Would you mind?” sambil membuat lirikan manja.
Ia menghampiri dan menatapku tajam. Ia membantu melepaskan kaitan bra-ku dan dengan sedikit gemas aku menggaruk punggungnya. Aku sudah mulai tidak sabar. Aku tidak memperhatikan lagi kemana perginya bra-ku. Kedua tangannya mendorong pundakku dan aku hanya mengikuti pasrah. Tubuhku sudah mulai berkeringat dan kewanitaanku sudah semakin melembab. Dinginnya sprei tempat tidur hanya memberikan kesejukan sementara pada syaraf-syaraf kulitku yang terombang-ambing kenikmatan duniawi. Ia kembali menatap dengan mata yang semakin berbinar seolah seorang anak yang diberi mainan baru tanpa keinginan untuk memegangnya.
Kemudian badannya berbaring dan kepalanya mengarah pada wajahku. Tapi perkiraanku ternyata meleset! Untuk beberapa saat ia mencari sesuatu di atas kepalaku. Ketika ia kembali pada posisi duduk, mulutnya sudah menggigit sebungkus kondom. Aku berusaha beranjak bangun dan menatap antusias apa yang akan terjadi selanjutnya. Jari-jari tangan kirinya menahan ujung penisnya yang sudah merah mengkilat dan menggulung karet pengaman itu menutupi seluruh kejantanannya dengan jari-jari tangan kanannya. Ia berlutut di atas tempat tidur dan jari-jarinya kembali mengurut penisnya seperti meyakinkan posisi karet yang benar-benar nyaman. Jujur saja, saat itu kepalaku sudah semakin pusing dan desiran-desiran yang menyelubungi kewanitaanku semakin menjadi-jadi. Kami melakukan foreplay tanpa sentuhan fisik yang berarti!
Ia menyelinap di antara kedua kakiku. Kedua lututnya yang terlipat menahan kedua pahaku yang merenggang pasrah. I know this man is gonna rock me. Aku menggapai belakang kepalaku untuk sesuatu sebagai pegangan. Sesuatu yang bisa kugunakan sebagai jangkar sehingga aku dapat menahan serangannya nanti. Rongga kewanitaanku melemas terbuka bersiap untuk menelan sesuatu yang keras dan gemuk di hadapannya. Indra bergerak sangat perlahan. Ia menatap ke bawah tubuh kami dan terkesima melihat daerah pertempuran yang berada di bawah kontrolnya.
“Can I?” ia bertanya, suaranya ketat dan tinggi, seperti kejantanannya.
“Terserah!” dengan warna suara yang sudah tidak sabar lagi.
Action! Ia mendorong keras memasukiku, memenuhi rongga vaginaku, mendesakku ke tempat tidur, dan badanku bergetar keras ketika ia menariknya keluar. Selalu berulang. Keras. Menuju dalamnya tubuhku, dan kembali. Menyusun irama kenikmatan menemani rain symphony.
“Rapatkan kakimu,” kataku memohon.
Ketika ia melakukannya, bukit kecil pelvisnya menabrak klitorisku. Sensasional dan menyenangkan. Denyutan orgasmeku semakin nyata, sayangnya belum cukup.
“I wanna roll over.”
“Yeah.” Ia berhenti bergerak di dalamku. Agak menarik mundur. Membiarkan lututku pergi. Aku berusaha berbalik mengelilingi kejantanannya, tanpa melepaskannya, sehingga tubuhku berada di atasnya sekarang. Ia meremas pinggulku, seperti pengungkit, ia mulai memompa, mendesak, dan menusuk. Kedua tanganku meremas dadanya, memilin puting payudaraku, dan menggaruk paha kakinya. Aku mengangkat tubuhku sehingga dapat melihat batang kemaluannya yang masuk-keluar menggesek-gesek bibir vaginaku. Aku menggenggam bola-bola kejantanannya dengan tangan kiri, dan menjepit klitorisku diantara telunjuk dan jari tengah tangan kananku.
Indra menggeram sekarang, dan tekanan di antara kami berdua membuat udara di paru-paruku terlepas keluar membentuk desahan dan jeritan tertahan. Aliran kenikmatan telah menjalar dari tumit sampai ke ubun-ubun kepalaku. Ia menarik keluar penisnya dengan cepat. Vaginaku terasa hampa tanpa arti. Aku merendahkan kewanitaanku berusaha menemukan kembali kejantanannya. Batang kemaluannya terselip di antara bibir-bibir vaginaku, tanpa berusaha untuk menerobos masuk kembali. Kepala penisnya menemukan titik keras klitorisku lagi dan berulang. Aku menekan jari-jariku untuk menahan batang kemaluannya tetap pada posisi itu.
“Kayaknya sebentar lagi nich. Aku akan meledak sebentar lagi,” kataku sambil terengah-engah.
“Bilang aja kalau udah deket,” bisiknya di telingaku.
Erangan kenikmatan sudah tidak bisa kukendalikan lagi. Mulut Indra berusaha untuk membungkamku, mengurangi keliaranku. Aku tidak bisa menahannya walau sudah berjuang keras. Dan aku benar-benar menikmatinya. Ia mendorong kembali pinggulnya dan memasukiku. Ia membenamkan wajahnya di leherku. Aku dapat merasakan denyut nadi di batang kemaluannya, dan kekagetanku yang membuatku melayang ketika tangannya meremas payudaraku dan memilin putingku dengan keras. Perlahan kami berusaha menormalkan kembali pernafasan. Ia membaringkan tubuhku kembali di atas tempat tidur dan meletakkan tubuhku di sisinya. Ia menciumi dengan lembut leher dan dadaku.
“Thanks,” ucapnya lirih.
“Lagi…..,” jawabku manja.
Hari ini terpaksa makan siangku digabung dengan makan malam. Indra benar-benar kujadikan pemuas dahagaku. Kerinduanku seakan terjawab ketika berbaring di atas kasur yang basah dan lengket. Aromanya membuatku mabuk dan lemas. Aku pun harus dibantu untuk melangkah keluar kamar. Selama aku di kamar mandi pun, Indra harus mengecek untuk memastikan bahwa aku tidak pingsan akibat staminaku yang terkuras habis. Ketika pulang, ia mengantarku sampai di depan kamar kostku dan memberikan ciuman kilat di bibirku. Ia menolak dengan tegas undanganku untuk mampir sebentar menikmati nyamannya kamar kostku. Aku mengerti mendengar alasannya yang harus menyelesaikan tugas kuliah malam ini. Sebetulnya staminaku telah kembali seperti semula. Dan aku siap untuk melakukan posisi-posisi bersetubuh lainnya.
Dengan air hangat, aku membersihkan tubuhku dan meresapi kembali kenikmatan yang tersisa. Semua pikiran dan emosi yang mengarahkanku pada cinta telah kubuang jauh-jauh. Aku tak mau terjebak di antaranya. Biarlah pangeranku yang nun jauh di sana dapat merasakan getaran hatiku. Semoga kasihku berkenan datang dalam mimpiku malam ini. Aku berjanji takkan kulepas tubuhmu walau hanya sesosok bayangan. Selamat malam, my sweetheart. See you in dream.

Cerita Porno | cerita ngentot Kuperkosa Tanteku

----- ADS TOP POST DESKTOP ---
Cerita Porno | cerita ngentot Kuperkosa Tanteku
[17+] Selamat Menikmati Cerita Dewasa, cerita panas, cerita hot, TERBARU!!!

Kuperkosa Tanteku

Saya Dito.....umur 23 tahun baru lulus dari salah satu universitas ternama di Malang. Dan saya berasal dari keluarga baik-baik. Kejadian ini dimulai ketika saya menginap di rumah om saya di daerah sidoarjo. Om saya telah menikah dan memiliki 2 anak lelaki yang lucu umur 3 dan 5 tahun, serta memiliki istri yang cukup cantik (menurut saya) umurnya sekitar 27 tahun. saya sendiri tinggal disurabaya kurang lebih jarak tempat tinggalku dengan tante adalah 19 Km.......................... Awal kejadiannya adalah pada hari sabtu malam saya mendengar pertengkaran di rumah tersebut, yang tidak lain adalah om saya dengan tante saya. Ternyata penyakit 'gatel' om saya kambuh lagi yaitu sering pergi ke diskotik bersama temannya. Hal tersebut sangat menyakitkan tante saya, karena di sana om saya akan mabuk-mabukan dan terkadang pulangnya bisa pada hari Minggu malam. Entahlah apa yang dilakukan di sana bersama teman-temannya. Dan pada saat itu hanya aku bertiga saja di rumah: saya, Om Pram dan Tante Sis. "Brak.." suara gelas pecah menghantam pintu, cukup membuat saya kaget, dan om saya dengan marah-marah berjalan keluar kamar. Dari dalam kamar terdengar tante saya berteriak, "Nggak usah pulang sekalian, cepet ceraikan aku." Dalam hatiku berkata, "Wah ribut lagi." Om Pram langsung berjalan keluar rumah, menstarter mobil Tarunanya dan pergi entah ke mana. Di dalam kamar, aku mendengar Tante Sis menangis. Aku mau masuk ke dalam tapi takut kena damprat olehnya (kesalahan Om Pram dilimpahkan kepadaku). Tapi aku jadi penasaran juga. Takut nanti terjadi apa-apa terhadap Tante Sis. Maksudku akibat kecewa sama Om Pram dia langsung bunuh diri. Pelan-pelan kubuka pintu kamarnya. Dan kulihat dia menangis menunduk di depan meja rias. Aku berinisiatif masuk pelan-pelan sambil menghindari pecahan gelas yang tadi sempat dilemparkan oleh Tante Sis. Kuhampiri dia dan dengan pelan. Aku bertanya, "Kenapa Tan? Om kambuh lagi?" Dia tidak menjawab, hanya diam saja dan sesekali terdengar isak tangisnya. Cukup lama aku berdiri di belakangnya. Pada waktu itu aku hanya memandangnya dari belakang, dan kulihat ternyata Tante Sis mengenakan baju tidur yang cukup menggiurkan. Pada saat itu aku belum berpikiran macam-macam. Aku hanya berkesimpulan mungkin Tante Sis mengajak Om Pram, berdua saja di rumah, karena anak-anak mereka sedang pergi menginap di rumah adik Tante Sis. Dan mungkin juga Tante Sis mengajak Om bercinta (karena baju yang dikenakan cukup menggiurkan, daster tipis, dengan warna pink dan panjang sekitar 15 cm di atas lutut). Tetapi Om Pram tidak mau, dia lebih mementingkan teman-temannya dari pada Tante Sis. Tiba-tiba Tante Sis berkata, "To, Om kamu kayaknya udah nggak sayang lagi sama Tante. Sekarang dia pergi bersama teman-temannya ke Surabaya, ninggalin Tante sendirian di rumah, apa Tante udah nggak cakep lagi." Ketika Tante Sis berkata demikian dia berbalik menatapku. Aku setengah kaget, ketika mataku tidak sengaja menatap buah dadanya (kira-kira berukuran 34). Di situ terlihat puting susunya yang tercetak dari daster yang dikenakannya. Aku lumayan kaget juga menyaksikan tubuh tanteku itu. Aku terdiam sebentar dan aku ingat tadi Tante Sis menanyakan sesuatu, aku langsung mendekatinya (dengan harapan dapat melihat payudaranya lebih dekat lagi). "Tante masih cantik kok, dan Om kan pergi sama temannya. Jadi nggak usah khawatir Tan!" "Iya tapi temennya itu brengsek semua, mereka pasti mabuk-mabukan lagi dan main perempuan di sana." Aku jadi bingung menjawabnya. Secara refleks kupegang tangannya dan berkata, "Tenang aja Tan, Om nggak bakal macem-macem kok." (tapi pikiranku sudah mulai macam-macam). "Tapi Tante denger dia punya pacar di surabaya, malahan Tante kemarin pergoki dia telponan ama cewek, kalo nggak salah namanya Sella." "Masak Om tega sih ninggalin Tante demi cewek yang baru kenal, mungkin itu temennya kali Tan, dan lagian Tante masih tetap cantik kok." Tanpa Tante Sis sadari tangan kananku sudah di atas paha Tante Sis karena tangan kiriku masih memegang tangannya. Perlahan-lahan pahanya kuusap secara halus, hal ini kulakukan karena aku berkesimpulan bahwa tanteku sudah lama tidak disentuh secara lembut oleh lelaki. Tiba-tiba tanganku yang memegang pahanya ditepis oleh Tante Sis, dan berdiri dari duduknya, "To, saya tantemu saya harap kamu jangan kurang ajar sama Tante, sekarang Tante harap kamu keluar dari kamar tante sekarang juga!" Dengan nada marah Tante Sis mengusirku. Cukup kaget juga aku mendengar itu, dan dengan perasaan malu aku berdiri dan meminta maaf, kepada Tante Sis karena kekurangajaranku. Aku berjalan pelan untuk keluar dari kamar tanteku. Sambil berjalan aku berpikir, aku benar-benar terangsang dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Sejak aku putus dengan pacarku, terus terang kebutuhan biologisku kusalurkan lewat tanganku. Setelah sampai di depan pintu aku menoleh kepada Tante Sis lagi. Dia hanya berdiri menatapku, dengan nafas tersenggal-senggal (mungkin marah bercampur sedih menjadi satu). Aku membalikkan badan lagi dan di pikiranku aku harus mendapatkannya malam ini juga. Dengan masa bodoh aku menutup pintu kamar dari dalam dan menguncinya, lalu langsung berbalik menatap tanteku. Tante Sis cukup kaget melihat apa yang aku perbuat. Otakku sudah dipenuhi oleh nafsu binatang. "Mau apa kamu To?" tanyanya dengan gugup bercampur kaget. "Tante mungkin sekarang Om sedang bersenang-senang bersama pacar barunya, lebih baik kita juga bersenang-senang di sini, saya akan memuaskan Tante". Dengan nafsu kutarik tubuh tanteku ke ranjang, dia meronta-ronta, tetapi karena postur tubuhku lebih besar (tinggiku 182 cm dan beratku 75 kg, sedangkan Tante Sis memiliki tinggi tubuh sekitar 165 cm dan berat kurang lebih 50 kg) aku dapat mendorongnya ke ranjang, lalu menindihnya. "Lepasin Tante, Dito," suara keluar dari mulutnya tapi aku sudah tidak peduli dengan rontaannya. Dasternya kusingkap ke atas. Ternyata Tante Sis tidak mengenakan celana dalam sehingga terpampang gundukan bukit kemaluannya yang menggiurkan, dan dengan kasar kutarik dasternya bagian atas hingga payudaranya terpampang di depanku. Dengan bernafsu aku langsung menghisap putingnya, tubuh tanteku masih meronta-ronta, dengan tidak sabar aku langsung merobek dasternya dan dengan nafsu kujilati seluruh tubuhnya terutama payudaranya, cukup harum tubuh tanteku. Akibat rontaannya aku mengalami kesulitan untuk membuka pakaianku, tapi pelan-pelan aku dapat membuka baju dan celanaku. Sambil membuka baju dan celanaku itu, dengan bergantian tanganku mengusap bukit kemaluannya yang menurutku mulai basah (mungkin Tante Sis sudah mulai terangsang walaupun masih berkurang tetapi frekuensinya agak menurun sedikit). kemaluanku telah berdiri tegak dan kokoh nafsu telah menyelimuti semua kesadaranku bahwa yang kugeluti ini adalah isteri pamanku sendiri....yaitu tanteku.... Dengan tidak sabar aku langsung berusaha membenamkan kejantananku ke liang TANTEKU........... , Aku agak kesulitan menemukan celah kewanitaan tanteku,kadang kemaluanku meleset keatas dan bahkan kadang meleset kearah lubang anus tanteku . ini disebabkan tanteku bergerak kesana kemari berusaha menghindar dan menghalangi kemaluanku yang sudah siap tempur ini............................................ "To, jangan To, aku Tantemu tolong lepasin To, ampun, Tante minta ampun". Aku sudah tidak peduli lagi Rengekannya. .......usahaku kepalang tanggung dan harus berhasil......karena gagalpun mungkin akibatnya akan sama bahkan mungkin lebih fatal akibatnya....... Ketika lubang senggamanya kurasa sudah pas dengan dibantu cairan yang keluar dari liang kewanitaannya aku langsung menghujamkan senjataku. "Auuhh, sakit To, aduh.. Tante minta ampun.. tolong To jangan lakukan .....lepasin Tante To.." Ketika mendengar rintihannya, aku jadi kasihan, tetapi senjataku sudah di dalam, "Maaf Tante, saya sudah tidak tahan dan punyaku sudah terlanjur masuk nih.....," bisikku ke telinganya. Tante Sis hanya diam saja. Dan tidak berkata apa-apa. Dengan pelan dan pasti aku mulai memompa kemaluanku naik turun, ........tanteku menggelinjang hebat.....seakan akan masih ada sedikit pemberontakan dalam dirinya.... ssshhhhhhhhh....tanteku hanya mendesis lirih sambil menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan tak mau menatap wajahku.......kemudian Dia hanya diam pasrah dan kulihat air matanya berlinang keluar. Kucium keningnya dan bibirnya, sambil membisikkan, "Tante, Tante masih cantik dan tetap mengairahkan kok, saya sayang Tante, bila Om sudah tidak sayang lagi, biar Dito yang menyayangi Tante." Tante Sis hanya diam saja, dan kurasakan pinggulnya pun ikut bergoyang seirama dengan goyanganku. kemaluanku kudorong perlahan ...seakan ingin menikmati kenyamanan ini dengan waktu yang lama........ cllkk....clllkkkk.cclkkkk bunyi badanku beradu dengan badan tanteku.......seirama keluar masuknya kemaluanku kedalam liang senggamanya yangbetul betul enak...... ... Kira-kira 10 menit aku merasakan liang kewanitaan tanteku semakin basah dan kakinya menyilang di atas pinggulku dan menekan kuat-kuat mungkin tanteku sedang orgasme........................................... ............... kudiamkan sejenak .....kubiarkan tanteku menikmati orgasmenya.........kubenamkan lebih dalam kemaluanku ,sambil memeluk erat tubuhnya iapun membalasnya erat.....kurasakan tubuh tanteku bergetar.... kenikmatan yang dahsyat telah didapatkannya....... kubalik badan tanteku dan sekarang dia dalam posisi diatas......kemaluanku masih terbenam dalam kewanitaan tanteku......tapi dia hanya diam saja sambil merebahkan tubuhnya diatas tubuhku,....lalu kuangkat pinggul tanteku perlahan.....dan menurunkannya lagi....kuangkat lagi......dan kuturunkan lagi.......kemaluanku yang berdiri tegak menyodok deras keatas ...kelubang nikmatnya...... ahirnya tanpa kubantu ....tanteku menggoyangkan sendiri pantatnya naik turun..... oooooooccchhhhhhhh.......aku yang blingsatan kenikmatan... rupanya tanteku mahir dengan goyangannya diposisi atas.... kenikmatan maximum kudapatkan dalam posisi ini.... rupanya tanteku mengetahui keadaan ini ...ia tambah menggoyang goyangkan pantatnya meliuk liuk persis pantat Anisa bahar penyanyi dangdut dengan goyang patah patahnya....... oooooochhhhhh,............sshhh......kali ini aku yang mirip orang kepedasan aku mengangkat kepalaku...kuhisap puting susu tanteku..... ia mengerang........goyangannya tambah dipercepat.... dan 5 menit berjalan .......tanteku bergetar lagi......ia telah mendapatkan orgasmenya yang kedua...... pundakku dicengkeramnya erat...... ssshhhhhhh.........bibir bawahnya digigit...sambil kepalanya menengadah keatas..... "to....bangsat kamu.......tante kok bisa jadi gini.....ssssshhhh ....tante udah 2 kali kluarrrrrrrr..."..... aku hanya tersenyum..... "tulangku rasa lepas semua to...." aku kembali tersenyum... "tante gak pernah klimaks lebih dari 1 x kalo dengan ommu.." kubalik kembali badan tanteku dengan posisi konvensional.. kugenjot dengan deras kewanitaannya..... oooohhh oohhh....ssshhhhh tanteku kembali menggeliat pinggulnya mulai bergoyang pula mengimbangi genjotanku.............. aku pun sudah kepengen nyampe....... dan tidak lama kemudian akupun mengeluarkan spermaku di dalam liang senggamanya. ssshhhhhh......aaachhhhhhh.................... spermaku tumpah dengan derasnya kedalam liang senggama tanteku........ mata tanteku sayu menatapku klimaks......... permainan panjang yang sangat melelahkan......yang diawali dengan pemaksaan dan perkosaaan yang ahirnya berkesudahan dengan kenikmatan puncak yang sama sama diraih....... kulihat terpancar kepuasaan yang amat sangat diwajah tanteku....................... "kamu harus menjaga rahasia ini to....." aku hanya mengangguk.... dan sekarang tanteku tak perduli lagi kalau om ku mau pulang atau tidak....... karena kalau om ku keluar malam maka tanteku akan menghubungiku via HP untuk segera kerumahnya
--- Bawah Post ---