--- Atas Post ---
Tampilkan postingan dengan label Sex Umum Asoy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sex Umum Asoy. Tampilkan semua postingan

Ngentot Dengan Bu Heru Di Atas Kapal 1

----- ADS TOP POST DESKTOP ---
Ngentot  Dengan Bu Heru Di Atas Kapal 1
Yayuk adalah adalah sepupu Ibuku, pada usia 24 tahun gadis yang masih terlihat polos ini dilamar dan dinikahkan dengan Heru, seorang sarjana ekonomi yang pada waktu itu sudah berdinas sebagai Staf Muda kantor pajak di salah satu kota di Kalimantan. Setelah menikah Yayuk dibawa untuk tinggal di sana dan bersama mereka tinggal juga Ibu mertua Yayuk.

Setahun setelah menikah, Heru mengajak istri dan Ibunya untuk berlebaran di kampungnya di Jawa. Mereka mengambil transportasi lewat laut yang lebih murah karena dititipi untuk membawa barang-barang berupa perabot meubel pesanan seorang atasan Heru di Jawa. Waktu itu belum ada kapal penumpang Pelni yang bagus sehingga terpaksa menumpang sebuah kapal barang. Kebetulan saat menjelang Lebaran itu penumpang di semua angkutan memang penuh. Di kapal yang ditumpangi Yayuk pun semua cabin awak kapal sudah habis disewakan sehingga keluarga Yayuk tidak kebagian kamar lagi dan terpaksa menggelar tikar di salah satu geladak kapal, itu pun kebagian geladak sebelah luar yang ditutupi terpal.

Karena suasananya berangin dingin tidak menyenangkan, sesaat kapal bertolak, Yayuk yang berpembawaan berani tanpa memberitahu keluarganya diam-diam menghadap sendiri kepada Kapten kapal menanyakan kemungkinan ada kamar lagi untuk mereka. Oleh Kapten dia diminta menanyakan sendiri pada Enos, Perwira Satu yang mengatur masalah penumpang. Pergi menemui Enos di kamar kerjanya Yayuk baru di jumpa pertama sudah sempat tertegun melihat ketampanan laki-laki yang simpatik ini, tapi di situ meskipun sudah merengek-rengek ternyata memang tidak ada kamar lagi. Dalam pada itu Enos yang juga sekali melihat sudah langsung tergiur dengan kecantikan dan kemulusan Yayuk, mencoba iseng menggoda karena dinilainya perempuan muda ini jinak dan mudah didekati. Waktu itu Yayuk sedang merayu untuk diperbolehkan dia dan Ibu mertuanya menggunakan kamar kerja Enos.

"Waduh gimana ya Yuk, nanti Mas nggak punya tempat kerja lagi. Tapi.. hmm.. bisa juga sih, asal nanti Yayuk sendiri tidurnya di kamar sebelah situ, gimana, bisa kan?" kata Enos yang sebetulnya sudah kasihan akan memberi cuma saja disertai iseng-iseng merayu sambil menunjuk kamar tidurnya di sebelah.
"Lho itu kan kamar tidur Mas, lalu Mas sendiri tidurnya di mana?"
"Ya sama di situ juga."
"Ihhik.. berdua di situ sih malah bukannya tidur Mas.. Lagipula Ibu Yayuk nanti mau di kemanain?" jawab Yayuk tertawa malu-malu genit.
"Kan bisa aja, mula-mula berdua Ibu di sini tapi kalau Ibu sudah tidur kamunya pindah ke kamar Mas," kata Enos semakin berani berlanjut.
"Wihh.. itu sih nekat Mass.. nanti ketauan Ibu malah rame nggak karuan," Yayuk tertawa geli sambil memukul canda pangkal lengan Enos yang mulai merapat kepadanya.

Keduanya ketika itu berbicara sambil berdiri berhadapan.
"Kalau cuma bikin supaya nggak ketauan sih gampang, yang penting maunya dulu, nanti diaturnya belakangan."
"Ah Mas sih guyon aja, nanti udah gitu tapi tau-taunya harga sewanya dimahalin juga?"
"Ini bener-bener serius, pokoknya kalau mau malah bisa Mas kasih gratis," kejar lagi Enos tapi sudah mulai menarik Yayuk merapat padanya.
Enos 30 tahun, laki-laki playboy peranakan Menado-Jawa ini memang pintar memanfaatkan ketampanannya untuk menaklukkan wanita. Yakin bahwa Yayuk bisa ditaklukkan, dia makin berani apalagi dilihatnya ada kesempatan terbuka. Begitu rapat dia pun mulai merangkul pundak Yayuk.
"Tapii.. gimana caranya Mass.." terdengar nada Yayuk bimbang tergiur tawaran Enos.
"Pokoknya tenang aja.. Bilang mau dulu nanti Mas yang jamin pasti aman.."

Kali ini bujukan Enos sudah diikuti aksinya. Yayuk yang masih menunduk malu-malu diangkat dagunya untuk diajak bertatap mesra. Dan ketika Yayuk masih terdiam ragu, Enos sudah menunduk dan memberinya satu ciuman dalam menempel di bibirnya. Yayuk sempat gelagapan, tapi ajakan berciuman laki-laki berwajah tampan simpatik ini cepat saja memukaunya dan melambungkannya dalam asyik. Sehingga dia jadi terikut membalas melumat, saling bergelut lidah bertukar ludah. Yang begini jelas tambah memperlemah Yayuk karena tiba-tiba tubuhnya terasa melayang dipondong Enos dibawa berpindah ke kamar tidur sebelah. Tentu saja Yayuk kaget, meronta-ronta untuk lepas tapi bibirnya disumbat ketat oleh bibir Enos dan baru dilepas ketika tubuhnya sudah dibaringkan di atas tempat tidur.

"Aduhh nggak Mas, aku nggak mau..! ja.. jangan Mass, jangan sekarang..!" panik dia ingin ke luar dari kepungan Enos tapi cepat dibujuk Enos.
Yayuk memang sudah mulai terbujuk Enos tapi suasananya dianggap tidak cocok saat itu.
"Sstt, sst tenang aja.. Mas juga nggak ngajakin sekarang kok..?"
"Tapi ngapain aku dibawa ke sini!?"
"Mas cuma mau buktiin lewat ciuman tapi kuatir di sebelah situ ada yang mergokin kita, kalau di sini kan aman. Tenang aja, percaya sama Mas deh."

Yayuk terbujuk lagi dan agak tenang, dia pun segera menerima lagi ciuman dan lumatan Enos. Kembali dia melambung dalam asyiknya berciuman, di sini Enos semakin menjadi-jadi. Tangan pelaut senior ini cepat saja menyusup lewat bawah rok Yayuk, mendarat di selangkangannya langsung meremasi bukit kemaluannya. Lagi-lagi Yayuk kaget ingin lepas tapi posisinya sudah dibuat terkunci lebih dulu oleh Enos yang sewaktu mengawali ciuman sudah naik berbaring di sebelahnya. Di atas mulutnya disumbat ciuman, masing-masing tangan yang sebelah ditindih dan sebelah lagi dicekal tangan Enos yang melingkari bawah lehernya, sementara sebelah kaki Enos pahanya menyusup di tengah selangkangan menjaga paha Yayuk tidak bisa merapat.

Semakin keras Yayuk berusaha, semakin ketat tekanan Enos dan semakin gencar terasa rangsangan Enos di kemaluannya. Bukan sekedar meremasi dari luar lagi tapi Enos sudah menyusupkan tangannya langsung bermain di bibir kemaluannya. Di situ jari-jarinya sudah meraba-raba celah lubangnya mulai mengiliki kelentitnya. Masih terakhir Yayuk berkutetan sebentar tapi kemudian kalah juga, malah mengikuti rangsangan jari Enos yang mulai meningkatkan birahinya terangkat naik. Apalagi ketika satu jari Enos ditelusupkan ke dalam lubang dan mulai mengorek-ngorek di dalam situ, Yayuk dari semula ingin berontak lepas, sekarang malah pasrah kepada Enos. Ini dibuktikan ketika Enos mengendorkan cekalan tangannya, Yayuk ternyata tidak ribut ingin lepas malah terdiam hanyut dengan mata terpejam menikmati asyik ciuman bergelut lidah sambil lubang kemaluannya dilocoki jari Enos.

Ini di luar dugaan Enos mendapati Yayuk yang kebetulan cepat sekali terangsang berahinya. Memang sadar sekarang bukan waktu yang tepat untuk bercinta tapi untuk langsung berhenti Enos tidak tega sebab dilihatnya Yayuk sudah terlalu hanyut jauh mendekati orgasmenya. "Hhghh ssh.." betul juga, mengerang pelan terdengar suara Yayuk meskipun tidak kentara tapi Enos tahu bahwa Yayuk sedang berorgasme saat itu. Sebentar digencarnya rangsangan membantu Yayuk sampai terasa mengendor barulah Enos berhenti. "Tuu kaan, percaya kalau Mas nggak mau jahat sama Yayuk. Ini cuma sekedar supaya lebih kenal deket, soalnya cewek cantik kayak Yayuk gini bikin Mas langsung gemes pengen cium sambil diremes-remes. Ayo, rapiin dulu bajunya habis itu bisa ajak Ibunya ke sini," kata Enos dalam gaya merayu lembut simpatik untuk tetap mengambil hati Yayuk.

Caranya seperti sudah yakin bahwa Yayuk pasti akan menyetujui tawarannya tapi memang Yayuk juga seperti tersihir dengan undangan itu. Dia hanya sempat ragu-ragu waktu berjalan menemui keluarganya, cuma saja di situ dia justru mengikuti apa yang ditawarkan Enos untuk mengajak Ibu mertuanya menginap di kamar kerja Enos. Tentu saja Ibu senang dengan kebaikkan Enos, padahal Yayuk sendiri setelah itu berdebaran jantungnya menunggu pengalaman baru yang akan dialaminya malam nanti.

Kapal keluar mengarungi lautan, siang itu sudah langsung diterpa ombak membuat para penumpang mulai pening. Lewat makan malam sebagian besar sudah menggeletak lunglai termasuk Ibu dan Yayuk. Melihat itu Enos memberi pil anti mabuk pada Ibu, tapi ketika Yayuk juga minta, dia membisiki bahwa itu sebenarnya obat tidur dan Yayuk dicegah untuk ikut meminumnya. Betul juga menjelang tengah malam ibunya sudah terkulai pulas di sebelahnya dan ketika itu Enos yang sedari tadi kalau ke luar masuk lewat pintu tersendiri dari kamar tidurnya, kali ini pura-pura masuk dari pintu kamar kerja. Meyakinkan dulu bahwa Ibu benar-benar sudah pulas, dia menarik lengan Yayuk mengajaknya ke kamar sebelah. Yayuk yang sudah terkesan dengan kejadian siang tadi sudah tidak ragu-ragu untuk bergerak bangun mengikuti ajakan Enos ke kamar tidurnya. Baru saja masuk sudah langsung diangkat Enos dibaringkan di tempat tidur.

"Tapi Mass.. aku masih takut kalau ketauan.." bisik Yayuk menguatirkan perasaannya.
"Nggak usah kuatir.. Ibumu nggak akan bangun sampai besok pagi. Sini Mas yang bantu bukain bajunya ya..?" hibur Enos sambil menawarkan bantuannya tapi diambil alih sendiri oleh Yayuk.

Enos menutup sebentar gordyn tempat tidur yang umumnya terpasang khusus pada tempat tidur kapal, dia sendiri katanya akan ke kamar mandi dulu. Suasana ruangan remang-remang dengan hanya lampu meja menyala, di tempat tidur lebih gelap lagi terhalang oleh gordyn. Tidak lama Enos kembali hanya mengenakan sarung saja ketika naik menyusul Yayuk yang rupanya betul-betul patuh sudah bertelanjang polos menuruti permintaan Enos. Meskipun samar-samar tapi cukup jelas terpandang tubuh padat Yayuk, sudah langsung melonjakkan gairah nafsu Enos namun begitu dia tetap menjaga kelembutannya agar tidak berkesan kasar pada perkenalan pertama ini. Dipikir-pikir nekat juga Yayuk sudah langsung pasrah dengan laki-laki yang baru pertama dikenalnya ini, tapi ketampanan yang memikat serta kepintaran Enos merayu betul-betul sudah menaklukan hati Yayuk. Siang tadi keasyikan yang dialaminya sudah begitu membuatnya terkesan, sekarang berulang lagi ketika kedua bibir mulai bertemu kembali membuatnya cepat jatuh dalam birahi karena dia memang sengaja menuju ke situ. Sambil bibir bertemu kecup mesra, diterimanya rangsangan tangan Enos yang menggerayang meraba dan meremasi tubuh kewanitaannya. Beda dengan tadi, Enos tidak lagi perlu keras terburu nafsu sebab Yayuk didapatinya sudah lebih dulu pasrah, lembut saja tapi cukup mengipasi bara birahi Yayuk terbakar menyala.

"Kita bikinnya pelan-pelan aja ya? Jaga suara supaya nggak didenger Ibumu.." begitu pesan Enos yang sekaligus membuktikan pada Yayuk bahwa sebenarnya laki-laki ini kalem dan bukan type kasar. Ini makin menenangkan Yayuk dan dalam tempo sekejap dia sudah terlupa pada suaminya yang sedang meringkuk kedinginan dan pening, tidur beralaskan tikar di lantai besi di geladak yang berangin kencang, sebab dia sendiri di atas kasur empuk sedang dipeluk hangat seorang lelaki tampan yang membuainya dengan kecupan mesra diiringi asyik susunya diremas-remas, dipilin-pilin geli puting susunya. Meningkat asyik lagi ketika mulut Enos selepas ciuman merambat dengan kecupan seputar leher, menurun hingga tiba di bukit susunya, di situ berganti-ganti kedua puncak bukitnya dikerjai kecapan mulut. Yayuk mulai menggelinjang meresapi geli-geli enak pentilnya dijilat-jilat dan dihisap-hisap mulut Enos yang terlatih. Tapi yang lebih membuatnya buntu kesadaran adalah ketika Enos melengkapi rangsangan dengan merambatkan sebelah tangannya ke arah selangkangan dan mengulang permainan siang tadi.

Bersambung . . . .

Sensasi Nikmat Memek Wanita Hamil 2

----- ADS TOP POST DESKTOP ---
Sensasi Nikmat Memek Wanita Hamil  2
Aku ikutin perintahnya, prajurit muda lebih mengandalkan tenaga, berhadapan langsung, dan menekan sebaliknya prajurit tua lebih mengandalkan pikiran, menghindari kontak langsung, cenderung mengikuti (bukan mengalah), hasilnya tak jauh beda dengan yang muda hebatnya lagi tanpa keluar tenaga.

"Kenapa kok nggak pakai CD sih? Kamu khan lagi hamil," tanyaku.
"Habis capek tiap kencing harus melorotin celana ketat. Tadi sewaktu keluar yang ke tiga udah kebelet banget jadi pas masuk nggak ketahan keluar. Yah sudah basah, mau pakai cadangan ada di lemari bawah, naik turun kan capek Mas. Tadi kencing pertama aja udah nggak bisa jongkok," jawabnya panjang lebar. Perhatikan, panggilan sudah berubah. Artinya dia sudah mulai mengenal. Pantes saat kontak dengan pahanya terasa dingin kemungkinan dari air saat membasuh setelah kencing.

"Memangnya kenapa? Khan ada toliet jongkok," kataku.
"Toliet khan jorok Mas bekas orang banyak, jadi kencingnya sambil berdiri tetapi kakinya dibuka lebar biar nggak kena," jawabnya.
"Kamu nggak takut kerja tanpa CD?" kataku.
"Aku tadi diberi tahu sama Mbak Anita, kalau Mas orangnya nggak reseh," katanya.
Ha ha, belum tahu dia, jawabku dalam hati. Mungkin pergantian panggilan tadi berubah setelah ada sekilas info dari Mbak Anita. Setelah selesai memijat punggung, dia mulai mengeringkan krim dengan cara seperti tadi.

"Mas balik," katanya.
Aku segera membalikkan badanku, sambil kulihat wajahnya, dia tidak melihatku, tetapi melihat kemaluanku yang masih "bobo siang" sambil menutupnya dengan handuk kecil.
"kok dicukur Mas?" tanyanya setelah melihat burung yang tanpa bulu.
"Kamu sendiri kenapa kok dicukur?" tanyaku.
"Kalau ditanya dijawab dulu dong Mas!" katanya.
"Yah biar bersih aja," jawabku.
"Apa nggak geli Mas dicukur gitu?" tanyanya.
"Eh, kamu nanya terus kapan jawabnya?" tanyaku. Dianya tersenyum. Bibir bagian bawahnya (yang di wajah yah) lumayan tebal ada belahan di bagian tengahnya. Bibirnya dibalut pewarna berwarna pink, kontras dengan kulit putihnya. Matanya bulat sekali.
"Yah biar bersih juga. Nanti kalau sewaktu-waktu melahirkan, nggak buru-buru mencukurnya. Mas aku ke toilet dulu yah?" jawabnya sembari ijin yang ke empat kalinya.

Kalau melihat posisi kandungannya sih udah di bawah, nampak sudah waktunya. Dia masuk ke kamar, dan naik ke atas tempat tidur, meminggirkan ke dua kakiku, sehingga bisa duduk di pinggi tempat tidur.

"Berapa usia kandunganmu?" tanyaku.
"Tujuh bulan lewat, Mas," jawabnya.
"Suamimu kok tega, udah seperti ini kok masih disuruh kerja," tanyaku.
"Lebih tega lagi Mas, dia tidak mengakui ini hasilnya, dan pergi begitu saja," jawabnya sambil menunduk dan terus memijat.
"kok nggak di batalin aja?" tanyaku lagi.
"Biarin deh Mas, umurku sudah semakin tua, nanti nggak ada yang ngurus aku. Biarin deh aku usahakan sendiri," jawabnya kalem bersamaan dengan selesainya mengeringkan salah satu kaki. Setelah kering dia menggosok betisku yang berbulu dengan handuk, kemudian mengangkangi kakiku tadi dan menggosok pahaku dengan handuk, dan terasa bulu betisku terasa beradu dengan sesuatu yang kasar. Aku pura-pura tidak tahu dan kuperhatikan wajahnya tidak berubah sedikitpun. Perubahan terjadi di balik handuk yang menutupi kemaluanku, seperti ada yang sedang mendirikan tenda.

Dia memijat kakiku yang sebelah. Perlakuan yang sama dengan kakiku yang sebelah tadi. Juga acara gesek-menggesek, sehingga makin sempurnalah rubuhnya tenda. Yah, dalam posisi terlentang kalau lagi "konak" nggak mungkin tegak sembilan puluh derajat, yang ada juga posisi jam sepuluh kurang sepuluh menit. Setelah selesai dengan kaki, diturunkan handuk kecil hingga menutupi kemaluanku saja dan..

"Perutnya dipijat Mas?" tanyanya.
"Terserah," jawabku. Repot juga dia akan memijatnya, kalau sambil berdiri dia akan capek kalau dari samping membutuhkan tenaga yang lumayan banyak untuk menekan badanku. Yah terpaksa dia mengangkangi kemaluanku yang hanya dilapisi handuk kecil. Mulai memijat dari arah perut ke atas melebar ke sekitar pundak. Perlahan-lahan, semakin lama irama agak dipercepat.

Aku tidak tahu apakah percepatannya disebabkan prosedur pijatnya, ataukah ganjalan di kemaluannya yang semakin keras dan berdenyut-denyut. Disengaja atau tidak posisi batang kemaluanku berada di sela-sela bibir kemaluannya, hanya dipisahkan oleh handuk.

"Mas, kata Mbak Anita sama Mbak Anna, kalau ke sini nggak pernah main, kenapa sih?" tanyanya.
"Yang pentingkan puas Mbak, nggak main aja puas kok," jawabku.
"Kalau sekarang aku ingin main sama Mas, gimana?" tanyanya.
Sewaktu berkata demikian, handuk sudah hilang sebagai pembatas. Hilangnya bukan ditarik tetapi terdorong oleh goyangan pantatnya. Jadi antara batangku dan bibirnya melekat.
"Berapa tips-nya?" tanyaku. Dia sudah menggoyangkan pinggulnya, kesepakatan belum terjadi pekerjaan sudah dimulai. Sebagai gambaran, bibir bawahnya lumayan tebal dan sudah cukup basah untuk penetrasi, maklum hamil (orang hamil lebih cepat basahnya karena kelenjar yang memproduksi lendir tertekan oleh kandungan).
"Seperti yang Mas berikan dengan Mbak Anita atau Mbak Anna," katanya. Wah dilarang dumping harga rupanya di sini.
"Ya, sudah," kataku. Begitu selesai aku bicara, bersamaan dengan mulai masuknya kemaluanku ke dalam kemaluannya. Ups, licin sekali (jadi ingat main bola saat kecil di tanah lapang dari tanah liat, nggak pernah membawa bola jauh, selalu terpeleset apalagi bila bertemu lawan pasti jatuh) tapi agak longgar, mungkin karena tekanan kandungan, dan ada sesuatu yang menyentuh di ujung kemaluan seperti ada benjolan di bagian dalam kemaluannya. Ternyata mulut rahimnya juga sudah turun.

Dia tidak melakukan gerakan naik turun, mungkin sudah terlalu lelah, jadi hanya bergoyang-goyang, tetapi goyangannya semakin lama semakin merunduk, bak padi yang semakin berisi, di kepalanya semakin berat, terdongak ke belakang, sementara pahanya terbuka sangat lebar mengingat perut besarnya. Dia berusaha agar klitorisnya bergesekan dengan bulu kemaluanku yang tumbuh kasar di atas batang kemaluanku. Beberapa menit kemudian dia membalikkan badannya tanpa melepas batangku yang tertanam. Sekarang dia menghadap ke kakiku. Gerakan yang sama dia lakukan, tanpa naik turun, tetapi menekan serta menggesek lubang anusnya yang agak keluar, bukan ambein lho, tetapi itu tekanan kandungan, sehingga lapisan bagian dalam anus yang lembut tergesek oleh bulu kemaluanku. Dia tidak mengeluarkan suara, tepatnya menahan lenguhannya, agar tak terdengar di luar kamar. Hanya deru nafasnya yang berfrekuensi tinggi, isap buang isap buang, semua dilakukan melalui hidung. Mungkin mulutnya dikunci dengan menggigit bibir bawahnya takut tak sengaja keluar suara.

Akhirnya tangannya meremas pergelangan kakiku dan mengedan. Terasa sekali denyutan lubang anusnya. Tidak berapa lama aku pun keluar juga. Dia diam sejenak menikmati semburan spermaku. Setelah selesai, sudah tidak ada semburan dia mengangkat pantatnya, dan saat batangku telepas dari lubangnya, dia berusaha menjepit labia minoranya dengan jarinya tetapi tetap aja ada yang berjatuhan spermaku yang agak kental di kemaluanku.

"Banyak banget sih Mas?" tanyanya, sambil membersihkan vaginanya yang tembem banget dan nonong, tetapi masih mengangkang di atas kemaluanku.
"Iya udah lama nih nggak dikeluarin," jawabku, sambil membersihkan spermaku yang berjatuhan.
"Kamu suka nyabu?" tanyanya, sambil turun dari tempat tidur dengan sangat hati-hati.
"Suka nyapu rumah, nyapu halaman," jawabku. Dia tersenyum.
"Maksudku narkoba," katanya.
"Nggak, kenapa sih?" kataku.
"Pantes. Udah keluar kok nggak mengecil, masih besar dan keras," katanya.
"Sok tahu" kataku.
"Eh iya lho Mas, aku punya tamu dia habis nyabu (sekarang sudah jadi trend memakai narkoba di kamar Papitra, kadang bersama WP-nya) aduh setengah mati aku ngeluarin pejunya," katanya polos. Wah habis "O" ngomongnya udah nggak terkontrol nih sih Mbak. Saat aku bangun memang sih kemaluanku masih keras dan berdiri hanya sembilan puluh derajat ditunjang dengan beberapa urat yang menonjol.

"Terima kasih yah, Mbak. Kamu lagi hamil gini, semua tamu kamu perlakukan seperti ini semua?" tanyaku.
"Yah nggak Mas, kebetulan aku udah lama nggak ngewe, terus lihat punya Mas keras banget, udah gitu aku dapat info dari Mbak-Mbak kalau kamu kalau ke sini nggak pernah main, tetapi bayar penuh, artinya khan Mas orang bersih."
"Oh, jadi di kamar tunggu WP, banyak saling tukar informasi yah?"
"Harus itu, biar kita nggak salah, yang lebih penting lagi ini," katanya sambil menunjukkan leleran sperma yang meleleh keluar dari vaginanya.
"Maksudmu?" kataku nggak mudeng.
"Aku taruhan sama Mbak-Mbak yang pernah sama Mas, lumayan sepuluh ribuan sepuluh orang, ini sebagai bukti bahwa kamu main sama aku," katanya.
Ha, kaget aku. Wah gila aku dijadikan obyek judi, dasar.
"Sebentar Mas, aku ke toilet," katanya. Aduh bukan tamunya yang didulukan, malah dia yang duluan.

Nggak lama dia masuk, dan..
"Nih aku bawain handuk yang baru," katanya dengan wajah yang kelihatan seneng banget.
"Katanya nggak kuat naik turun, kok sudah bawa handuk bersih dari bawah?" tanyaku.
"Khan minta tolong sama room boy," katanya.
"Nah tadi ngambil CD minta tolong aja sama dia," kataku.
"Nggak enak lagi Mas nanti dikira macam-macam, lagian khan tadi belum ada modal buat nyuruh room boy," katanya.
"Maksudnya?" tanyaku lagi.
"Khan menang taruhan, yah bagi-bagi rejeki. Aku kasih uang room boy-nya untuk ambil handuk, mereka kalau nggak ada uangnya nggak gerak Mas!" katanya. Aku geleng-geleng.
"Iya setali tiga uang sama kamu, kalau nggak ada uang juga nggak goyang," kataku tapi dalam hati.
"Mbak Desi, kok kamu duluan sih ke kamar mandi?" tanyaku sambil memakai kimono dan membawa handuk serta sabun.
"Aku tadi buru-buru ke sebelah ngasih tahu sama Mbak Anita, kalau dia kalah taruhan dengan menunjukan sperma Mas yang ngucur dari memekku," katanya. Waduh udah kotor nih mulut Mbak Desi, mungkin terlalu gembira dengan kemenangannya dan "O"-nya.

Setelah mandi, berpakaian dan memberikan tips, aku bilang, "Kamu dapat tiga aku Cuma satu lho, Mbak!" kataku.
"Iya deh, lain kali aku kasih bonus," katanya, tahu maksudku kalau dia dapat tips, menang taruhan dan "O"-nya.
"Janji yah, makasih Mbak," kataku, sambil aku cium pipi kiri dan kanannya.

Saat turun ke depan resepsionis Mbak Desi mengikuti di sampingku, guna memberi tahu ke resepsionis berapa jam dan minum apa.

Aku bayar tagihanku dan tak lupa kuberikan lebihan buat Mbak Ani.
"Terima Kasih Pak," katanya. Saat aku membalikkan badan untuk menuju pintu keluar, sekilas aku melihat beberapa pasang mata di ruang tamu memandang bergantian antara aku dan Mbak Desi. Apa ada yang aneh? Oh mungkin lihat perutnya Mbak Desi yang nonong sementara tamunya terlihat "segar" sekali.

TAMAT

Sensasi Nikmat Memek Wanita Hamil 1

----- ADS TOP POST DESKTOP ---
Sensasi Nikmat Memek Wanita Hamil 1
Sabtu awal bulan, di pagi menjelang siang hari tepatnya jam 10:30 yang cerah, aku sudah duduk di rumah makan cepat saji yang cukup populer di Jakarta. Setelah memesan makanan, kupilih tempat duduk dekat kaca, agar dapat melihat situasi di luar. Dari pantulan cermin aku melihat di belakangku ada pria dan wanita. Yang pria sedang membaca surat kabar dengan posisi mengahadap kaca di sampingnya sedangkan wanitanya melahap makanan yang tersaji di hadapannya sehingga tidak ada suara, hanya suara musik yang terdengar sayup-sayup.

Karena aku nggak biasa sarapan pagi, jadi sarapannya tidak bisa cepat, sedikit-sedikit yang penting masuk. Nampak di belakangku mulai ada pembicaraan, semakin lama semakin keras. Oh, ternyata lagi ada pertengkaran, namun suaranya tidak terlalu keras. Bagus juga idenya kalau bertengkar cari tempat di luar rumah. Si wanita cemburu terhadap pasangannya, namum disanggah oleh si pria. Dia tak mungkin berseligkuh dikarenakan semua penghasilannya sudah diberikan padanya.

Tiba-tiba kulihat di luar ada seorang wanita berjalan dengan cepat sambil membawa tas plastik merah. Sepertinya kenal. Aku ingat-ingat. Oh iya, itukan Mbak Indah. Kulihat jam menunjukkan jam 11:30, berarti mulai berdatangan WP di depan rumah makan ini, tetapi ini masih yang juniornya alias yang baru lulus training. Aku sudah tidak memfokuskan ke pembicaraan orang di belakangku. Tak lama sepeda motor berpenumpang melintas dan menurunkan penumpangnya tepat di belakang kendaraanku yang kuparkir di seberang rumah makan dan hanya tiga blok dari sebuah panti pijat tradisional (Papitra). Dia turun dan memberikan uang. Oh ternyata naik ojek, itu kan Mbak Anita. Saat Mbak Anna masuk, sebuah bajaj berhenti lagi di belakang kendaraanku. Setelah bajaj berlalu tampak Mbak Ayu, dengan cepat melangkah masuk. Lama kelamaan parkir mulai penuh di sekitar Papitra, dan banyak pengemudi masuk ke situ. Nampak roda kehidupan Papitra mulai berputar.

Tanpa terasa suasana rumah makan mulai ramai. Pengunjung sudah bergantian keluar-masuk. Makananku pun sudah mulai habis. Aku pesan makanan penutup, sambil tidak sedikitpun membuang pandanganku ke arah sekitar mobilku. Bukannya takut kehilangan mobilku, tetapi di situlah rata-rata para WP turun dari kendaraan yang mengangkut mereka - mungkin malu dengan "pengantar"nya bahwa mereka bekerja di Papitra, sedangkan yang naik bis pasti berjalan kaki untuk mencapai tempat bekerjanya.

Hari semakin siang, sudah menunjukkan jam 13:00. Wp masih berdatangan. Ada yang muda dan kecil, rata-rata mereka menggunakan pakaian serba ketat atau hanya bawahannya saja yang ketat, nanti setelah masuk mereka akan menggunakan pakaian dinasnya yang setiap hari berganti warna tetapi dengan model yang sama, mempunyai bordiran nama di dada kanan sedangkan rok mininya ditulis nama WP dengan spidol di bagian dalam lipatan pinggang. Nah jam segini yang datang biasanya para senior-senior. Ada yang keluar dari taksi sambil bicara dengan HP-nya. Begitu taksi yang menutupi pandanganku jalan, baru aku tahu kalau itu Mbak Febby. Ada yang jalan kaki tetapi sambil bicara juga dengan HP-nya, kalau nggak salah ini Mbak Anna, dari penampilan mereka rata-rata HP yang digunakan keluaran terbaru.

Tidak berapa lama ada seorang wanita berpakaian ungu muda keluar dari taksi. Begitu taksi pergi, dia jalan menuju ke Papitra. Siapa yah? orang barukah? kataku dalam hati sambil menyentuh daerah antara hidung dan bibir atas dengan telunjuk kiriku - rasa penasaran dan petualanganku mulai tumbuh - dari penglihatanku umurnya kurang lebih sekitar 30 tahun. Yang menarik adalah pinggulnya cukup besar. Bila berjalan seperti bebek, megal megol, seperti orang hamil (??), apa mungkin orang hamil bekerja di Papitra?

Didorong rasa ingin tahu, aku menelpon ke Papitra di depan rumah makan itu.
"Hallo selamat siang," suara resepsionis.
"Siang Mbak Ani," jawabku.
"Mau pesan, Pak Budi?" katanya, masih ingat namaku. Mana mungkin lupa, khan setiap datang selalu diberi uang tip. (Hati-hati ada pengganti Mbak Ani, yang setiap mengembalikan uang jasa pijat selalu mengatakan kembaliannya kurang karena nggak ada uang kecil. Dia hanya menyediakan uang terkecil 10.000,- jadi di bawah nilai ini tidak akan dikembalikan - "pemerasan terselubung" alias tip maksa. Aku kalau bertemu dengan orang ini, selalu aku membayar lewat WP, agar kembaliannya tidak jatuh ke tangannya. Lebih baik jatuh ke tangan WP - khan dia yang "memeras").

"Mbak Ani, yang barusan baru masuk menggunakan baju ungu siapa sih?" tanyaku.
"Oh itu Mbak Desi," jawabnya.
"Sepertinya kok lagi hamil, Mbak?" tanyaku sambil menebak.
"Emang bener, Pak," jawabnya.
"Mbak Ani, sorry aku nanyanya agak-agak nih, kalau lagi hamil tugas, berarti hanya mijat dong?" tanyaku mendesak.
"Dalam kamar siapa yang tahu Pak?" jawabnya diplomatis, benar juga.
"Sudah ada yang pesan?" tanyaku, jadi ingin coba, karena rasa keingintahuanku.
"Belum, Pak Budi mau pesan?"
"Iya deh."
"Untuk jam berapa?"
"Hmm," mikir dikit, dia baru sampai, butuh istirahat, waktu makan siang sudah lewat, yah 30 menit cukup lah.
"Setengah jam lagi deh Mbak," jawabku.

Empat puluh lima menit kemudian aku sudah tanpa baju hanya menggunakan CD dengan isi sudah pada posisi. Tidur telungkup menghadap tembok di kamar lantai tiga ukuran 2x3 dengan penyejuk ruangan. Tak lama tirai dibuka dan ditutup kembali.

"Selamat siang Pak," sapanya.
"Siang," jawabku sambil menolehkan muka ke arah atas, tetapi tetap tidur telungkup.
"Mau minum apa?" tanyanya, sambil meletakkan barang bawaannya, handuk, sabun, sprei, dan cairan pelicin untuk pijat di atas satu-satunya sofa yang ada di ruang itu.
"Air mineral nggak dingin," jawabku. Dia keluar dan nggak lama membawa yang kuminta. Dia tidak menanyakan pijat berapa jam, karena aku berada di ruang VIP yang mempunyai waktu minimal satu setengah jam.

Terdengar dia melepaskan seragam dinasnya (padahal suhu ruang cukup dingin). Menutupkan selembar handuk ke punggungku mulai leher hingga pantat dan mulai memijit telapak kakiku. Selanjutnya aku tidak menjelaskan tahapan-tahapan pijat.

"Sebentar ya Pak, mau ke toilet," ijinnya.
"Ya," jawabku singkat.
Saat kembali dia mulai memijat kembali, mungkin terlalu lama berdiri saat memijat tadi, sehingga dia naik ke tempat tidur dan memijat kaki sebelahku yang belum disentuhnya dari tadi. Selanjutnya dengan mengangkang dia memijat punggungku. Terasa pahanya dibungkus dengan celana ketat, saat bersentuhan dengan pahaku.

"Kamu nggak pernah diisengin sama tamu, Mbak?" tanyaku.
"Itu sih sering Pak, santapan setiap hari!" katanya.
"Yang paling nyebelin seperti apa Mbak?" tanyaku.
"Belum lama ini ada tamu, saat lagi nafsu dia bilang, Mbak ngentot yuk? aku jawab aja, sama siapa Pak? dia jawab ya sama kamu, kirain sama kambing kataku, ngomongnya kasar banget," jawabnya.
Mungkin ada benarnya kata tukang gado-gado langgananku di blok M. Dia mengatakan bahwa kelemahan wanita ada di telinga. Artinya kalau dia disanjung, diajak bicara yang indah-indah, pasti akan tunduk. Jadi bicaralah yang baik dengan wanita siapapun dia, pasti kalau kamu minta sesuatu dengannya akan diberikan.
"Maaf Pak, saya tinggal ke toilet lagi," ijinnya.
"Ya," jawabku singkat, membuyarkan lamunanku.

Nggak lama dia meneruskan pijatan yang belum selesai. Setelah menyelesaikan pijatan tadi, dia berkata.
"Pakai krim nggak, Pak?" tanyanya.
"He em," kataku.
"Maaf Pak," katanya sambil melipat CD-ku, menjepitnya ke celah-celah pantat, dan akan menutup sisi CD dengan handuk, tetapi.. "Tolong dilepas aja Mbak," kataku. Dia menarik handuk dan melepaskan CD-ku. Nah telanjang deh aku sekarang. Dia mulai meratakan krim di seluruh permukaan kulit kakiku, dan mulai memijit, dan beberapa menit kemudian..

"Sebentar ya Pak, mau ke toilet lagi," ijinnya untuk ke tiga kalinya.
"Ya" jawabku singkat, tanpa protes, karena aku memaklumi, karena saat hamil kandung kemih tertekan oleh kandungan, atau ada yang lain yang aku nggak tahu.
"Yah beginlah Pak kalau kondisinya seperti ini," katanya saat masuk ke kamar.
"Aku maklum kok, Mbak," jawabku.

Dia mulai memijat kaki satunya lagi. Setelah selesai dia mengeringkan krim dengan handuk, karena kakiku cukup banyak bulunya dia menaburi bedak bayi di seluruh permukaan ke dua kaki (kalau dilihat nggak ubahnya seperti bayi yang habis mandi terus dibedaki), sehingga minyaknya bergabung dengan bedak, kemudian di gosok dengan handuk satunya lagi, hasilnya lumayan kering.

Kemudian dia naik ke tempat tidur (biasanya WP bisa melakukannya dengan berdiri, mungkin karena beratnya menahan perut sehingga lebih baik sambil duduk di tempat tidur guna mengistirahatkan kedua kakinya). Wanita lagi hamil mana ada yang memakai rok mini, biasanya selalu serba longgar kan, kecuali wanita yang saat ini ada di atas pantatku.

Karena nggak ada tempat lagi untuk duduk, akhirnya dia mengangkangiku sehingga dia menduduki pantatku (asli lho, duduk plek, soalnya berat banget) dengan berlapiskan handuk dan mulai mengolesi krim. Saat sebelah kakinya diangkat untuk mengangkang terasa pahaku bergesekan dengan paha bagian dalamnya yang licin dan dingin. Tetapi anehnya kok sudah tidak memakai celana ketatnya lagi. Setelah punggung rata dengan krim dia mulai memijat. Posisi memijat adalah maju mundur, mulai dari pinggangku ke arah pundak. Karena gaya pijat dan tumpuan duduknya pada tempat yang tidak rata walaupun dilapisi oleh handuk, lama kelamaan dia bergeser tepatnya terpeleset ke arah pangkal paha, kan ada sedikit bekas krim serta berat tubuhnya yang lumayan berat.

Dia mengembalikan posisi duduknya ke pantatku lagi. Akan tetapi tanpa handuk hanya beralaskan roknya. Sewaktu gaya maju - saat mengurut dari pinggang ke arah pundak - dia terpeleset lagi. Sewaktu mengembalikan pantatnya ke pantatku sudah tanpa handuk, sebab irama pijatannya sudah agak cepat, jadi kalau sebentar-sebentar ngurusin handuk nggak selesai-selesai mijatnya.

Semakin cepat pijatannya, yang kurasakan bukan punggungku lagi, akan tetapi di pantatku ada sesuatu yang sangat kasar. Ternyata roknya sudah tidak menjadi alas untuk duduk. Iseng, aku menoleh ke belakang bawah.

"Sudah, nggak usah lihat-lihat," kata Mbak Desi, tetapi sekilas aku dapat melihat dia jongkok dengan roknya sudah di pinggang sementara di atas pantatku ada daging yang cukup tebal tanpa bulu (dicukur) nggak seperti bagasi mobilku, lebih tepatnya nonong. Pantes pahanya kok licin, nggak pakai celana!

Bersambung . . . . .
--- Bawah Post ---